gonore / GO


1.1  Definisi Penyakit Gonore
Gonore adalah salah satu penyakit menular seksual paling umum yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Neisseria gonorrhoeae (N. Gonorrhoeae) merupakan bakteri diplokokkus gram negatif dan manusia merupakan satu-satunya faktor host alamiah untuk gonokokus, infeksi gonore hampir selalu ditularkan saat aktivitas seksual.


1.2  Tanda Gejala Penyakit Gonore
Gejala klinik infeksi gonore yang akut adalah perasaan sakit sewaktu kencing dan sering kencing, gatal pada vulva, sekret yang purulen dari uretra, kelenjar para-uretralis, dan kelenjar Bartholini, dan sekresi yang mukopurulen dari serviks. Juga dijumpai kasus-kasus dimana gejala-gejalanya sama sekali tidak ada, atau tanda-tanda radang tidak seberapa menonjol. Rasa nyeri yang tidak seberapa nyata pada bagian bawah perut, demam yang tidak seberapa tinggi, dan rahim yang nyeri jika ditekan, menunjukkan keterlibatan korpus uteri. Penyebaran infeksi ketuba diikuti oleh gejala-gejala seperti nyeri yang lebih hebat pada kedua belah perut bagian bawah, hipogastrium yang tegang, kavum Douglasi yang nyeri pada palpasi, dan demam yang tidak teratur.
Gejala-gejala salpingo-ooforitis dan peritonitis pelvik yang akut mengurung sesudah beberapa minggu, tetapi tidak selalu terjadi penyembuhan yang sempurna. Tumor pada adneksa yang lambat kembali ke keadaan semula, memperlambat kesembuhan. Jika terjadi abses di kavum Douglasi, nanah harus dikeluarkan dengan kolpotomi posterior.
Pada gonore manahun gonokokus dapat tetap bersarang biasanya pada serviks uteri tanpa menyebabkan gejala apapun. Fokus infeksi ini dapat menimbulkan gejala-gejala akut sesudah koitus, haid, atau partus. Selain ini wanita dengan gonore laten ini dapat menularkan penyakitnya kepada partnernya pada hubungan seksual.
Pada infeksi menahun genitalia interna, penderita seringkali tidak pernah merasa sembuh betul. Keadaan baik silih berganti, dengan rasa kurang sehat dan rasa nyeri di perut bawah. Siklus haid sering kali terganggu karena radang ovarium; umumnya siklus haid menjadi pendek, tetapi perdarahan waktu haid menjadi lebih lama; amenorea jarang terjadi. Haid sering kali disertai oleh dismenorea, dan dapat terjadi pula dispareunia; laju endapan darah meningkat, dan suhu badan agak lebih tinggi dari normal.
Pada pemeriksaan bimanual dapat ditemukan perut bagian bawah nyeri tekan, uterus terletak dalam retroversiofleksio dan tidak mudah digerakkan, atau tertarik kesebelah kiri atau kanan karena perlekatan, dan sering kali dapat diraba tumor di samping uterus.
Tanda gejala pada pria:
1.      Sebagian besar pasien dengan gonore uretra memperlihatkan gejala 2 samapi 10 hari setelah hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi. Biasanya timbul disuria (nyeri pada saat buang air kecil) dan rabas uretra mukopurelen dalam jumlah besar, tetapi uretritis yang gambarannya lebih ringan juga tidak jarang. Sampai 5% pria dengan infeksi uretra tidak memperlihatkan gejala (sehingga menjadi sumber infeksi).
2.      Gonore faring, akibat kontak seksual orogenital, umumnya asimtomatik, tetapi kadang-kadang pasien mengeluh nyeri tenggorokan.
3.      Infeksi rektum, yang hampir selalu diperoleh melalui hubungan seksual anus pada homoseksual, sering asimtomatik (pasien tidak menyadari gejala apapun) tetapi mungkin dijumpai gambaran proktitis (rabas anus, nyeri, perdarahan, tenesmus).
4.      Epididimo-orkitis terjadi sebagai komplikasi pada sekitar 5% pria dengan gonore uretra yang tidak diterapi.

Kompikasi lain, misalnya abses periuretra, prostat, dan vesikula seminalis serta infeksi gonokokus diseminata jarang dijumpai.

Tanda gejala pada wanita:
1.      Sebagian besar wanita (sekitar 80%) dengan gonore nonkomplikata tidak memperlihatkan gejala. Namun beberapa mungkin mengeluh peningkatan rabas vagina dan disuria.
2.      Tanpa adanya infeksi lain, satu-satunya temuan klinis abnormal mungkin adalah edsudat mukopurulen dari os serviks
3.      Infeksi pada kelenjar parauretra dapat dimanifestasikan sebagai eksudat mukopurulen pada pemijatan lembut uretra distal melalui vagina.
4.      Penyakit randang panggul (PRP) terjadi sebagai komplikasi pada sekitar 15% wanita dengan gonore yang tidak diobati, dan gambarannya mungkin akut, subakut, atau kronik.
5.      Bartolintis disertai pembentukan abses dapat terjadi pada 10%. Individu yang terinfeksi dan yang lebih jarang dapat terjadi infeksi gonokokus diseminata (pasien memperlihatkan penyakit demam disertai poliartralgia dan lesi kulit vaskulitik atau artritis septik).

Seperti pada pria, gonore faring dan rektum biasanya asimtomatik.

Gejala pada gadis pubertas
Orang tua biasanya mengetahui adanya rabas di pakaian dalam sang gadis, dan pada pemeriksaan tampak kemerahan dan pembekakan vulva serta rabas vagina purulen. Penyebab lain vulvovaginitis adalah benda asing di dalam vagina (termasuk cacing kremi), kebersihan yang kurang atau infeksi saluran kemih.

1.3  Etiologi Penyakit Gonore
Infeksi gonore disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Bakteri
Neisseria gonorrhoeae bersifat gram negatif, yang terlihat di luar atau di dalam
sel polimorfonuklear (leukosit), tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati
pada keadaan kering, tidak tahan suhu di atas 39° C dan tidak tahan terhadap
zat desinfektan.
Bakteri Neisseria gonorrhoeae adalah bakteri diplokokus gram negatif yang aerob dan berbentuk seperti biji kopi. Terletak intraselular yang biasanya terdapat di dalam leukosit polimorfonuklear. Bakteri tersebut memilki diameter sekitar 0,8 μm. Selain itu, kuman ini tidak motil dan tidak berspora. Suhu 35°C-37°C dan pH 7,2- 7,6 merupakan kondisi optimal untuk bakteri Neisseria gonorrhoeae tumbuh.
Secara morfologik gonokokus ini terdiri atas 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang
mempunyai pili yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dan
bersifat non virulen. Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi
radang.
 
Bakteria Neisseria gonorrhoeae
Pada tahun 1832 Ricord membuktikan bahwa gonore bukan suatu jenis sifilis yang ringan, melainkan suatu penyakit infeksi yang berdiri sendiri dan mempunyai perbedaan fundamental dari penyakit sifilis.
Pada tahun 1879 Neisser menemukan kuman yang menyebabkan penyakit ini, dan yang sejak itu dikenal dengan nama gonokokus atau demi menghargai penemunya Neisseria gonoreae.
Gonorea adalah suatu penyakit kelamin yang sangat umum. Penyakit dijumpai di seluruh penjuru dunia. Diperkirakan bahwa di Amwrika Serikat terdapat lebih dari 3 juta kasus baru tiap tahun. Kejadian gonore terrutama tergantung pada banyaknya prostitusi dan kebebasan hubungan seksual di luar perkawinan di negeri yang bersangkutan.
Gonokokus adalah diplokokus yang gram negatif, berbentuk seperti biji kopi. Kuman ini mudah diwarnai dengan metilen biru alkalis dari Loeffler, dengan karbol-fukhsin yang dicairkan, dan dengan pironin (zat methil-pironim dari Pappenheim). Burdo menganjurkan agar-agar darah coklat yang dipanaskan sebagai medium pembiakan yang baik untuk gonokokus. Gonokokus adalah pasrasit yang tidak dapat hidup dalam segala macam keadaan, dan kuman ini hanya patogen terhadap manusia. Pada manusia ia menimbulkan benda penangkis yang dapat didemonstrasikan. Gonokokus menyerang selaput mukosa, terutama yang mempunyai epitel torak, sendi, endokard, epitel tatah konjunktiva, epitel vagina pada wanita yang belum dewasa dan yang tua juga mudah diserang gonokokus.




1.4  Cara Penularan Penyakit Gonore
Neisseria gonorrhoeae dapat ditularkan melalui kontak seksual atau melalui
penularan vertikal pada saat melahirkan. Bakteri ini terutama mengenai epitel kolumnar
dan epitel kuboidal manusia. Patogenesis gonore terbagi menjadi 5 tahap sebagai berikut:
1.      Fase 1 adalah bakteri Neisseria gonorrhoeae menginfeksi permukaan selaput lendir dapat ditemukan di uretra, endoserviks dan anus.
2.      Fase 2 adalah bakteri ke microvillus sel epitel kolumnar untuk kolonisasi selama infeksi, bakteri dibantu oleh fimbriae, pili. Fimbriae terutama terdiri dari protein pilin oligomer yang digunakan untuk melekatkan bakteri ke sel-sel dari permukaan selaput lendir. Protein membran luar PII Oppacity associated protein (OPA) kemudian membantu bakteri mengikat dan menyerang  sel inang.
3.      Fase 3 adalah masuknya bakteri ke dalam sel kolumnar dengan proses yang disebut endositosis di mana bakteri yang ditelan oleh membran sel kolumnar, membentuk vakuola.
4.      Fase 4 adalah vakuola ini kemudian dibawa ke membran basal sel inang, dimana bakteri berkembang biak setelah dibebaskan ke dalam jaringan subepitel dengan proses eksositosis. Peptidoglikan dan bakteri LOS (Lipo Oligo Sakharida) dilepaskan selama infeksi. Gonococcus dapat memiliki dan mengubah banyak jenis antigen dari Neisseria LOS. LOS merangsang tumor necrosis factor, atau TNF, yang akan mengakibatkan kerusakan sel.
5.      Fase 5 reaksi inflamasi yang dihasilkan menyebabkan infiltrasi neutrofil. Selaput lendir hancur mengakibatkan akumulasi Neisseria gonorrhoeae dan neutrofil pada jaringan ikat subepitel. Respon imun host memicu Neisseria gonorrhoeae untuk menghasilkan protease IgA ekstraseluler yang menyebabkan hilangnya aktivitas antibodi dan mempromosikan virulensi.

Patogenis Gonore
Komplikasi terjadi bila pengobatan tidak segera dilakukan atau pengobatan sebelumnya tidak adekuat. Infeksi dapat menjalar ke uretra bagian belakang secara ascendent. Pada pria dapat memberi gambaran klinis antara lain: tisonitis, parauretritis, litritis, cowperitis, prostatitis, vesikulitis, funikulitis dan epididimitis, sistitis. Sedangkan pada wanita, komplikasi yang dapat terjadi antara lain: salpingitis, penyakit radang panggul (PRP), parauretritis dan bartolinitis.

1.5  Diagnosis Penyakit Gonore
Diagnosis Gonore (GO) ditegakkan dengan anamnesis (antara lain adanya riwayat keluarnya duh tubuh uretra atau vagina, nyeri waktu buang air kecil, berhubungan seksual risiko tinggi), pemeriksaan klinis (pada laki-laki dapat dijumpai muara saluran kencing bengkak, merah dan keluarnya nanah kuning kehijauan. Sementara pada wanita, karena tidak khas maka biasanya gejala klinis berupa vaginal discharge atau vaginal bleeding), dan pemeriksaan laboratorium sebagai penunjang.
Diagnosis pada pria:
Bagi pria yang diduga terjangkit gonore uretra, dilakukan pengambilan eksudat dengan sengkelit inokulasi palstik sekali pakai yang kemudian di letakkan di kaca objek, difiksasi dengan melewatkannya secara hati-hati di atas pijaran lampu spiritus, dan dikirim ke laboratorium. Sediaan, yang diambil menggunakan stik aplikator berujung kapas, juga harus dikirim dalam medium transportasi yang sesuai untuk kultur. Untuk diagnosis gonererektum dan faring, diperlukan kultur dari bahan yang sesuai.
Diangnosis pada wanita:
Bahan untuk kultur dari wanita harus diperoleh dari semua tempat yang mungkin terinfeksi (kanalis endoservikalis, uretra, rektum, orofaring , dan vagina pada gadis pubertas. Karena satu set kultur mungkin gagal mendeteksi sekitar 7% wanita yang terinfeksi, maka pemeriksaan kultur harus diulang sekali lagi, sekitar 1 minggu kemudian.

Kementerian Kesehatan RI memberikan pedoman tentang tata cara melakukan diagnosis gonore yang terdiri dari:
1.      Anamnesis
Anamnesis dapat dilakukan oleh tenaga medis atau paramedis dengan menanyakan beberapa informasi terkait penyakit kepada pasien untuk membantu menentukan faktor resiko pasien, menegakkan diagnosis sebelum melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lainnya.
2.      Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan di daerah sekitar genital pria atau wanita
dengan bantuan lampu sorot yang dilakukan oleh tenaga kesehatan ahli.
Jenis pemeriksaan yang dilakukan pada wanita dan pria memiliki perbedaan
seperti:
a.       Pasien wanita, diperiksa dengan berbaring pada meja ginekologik dengan
posisi litotomi. Pemeriksaan dilakukan dengan memisahkan kedua labia
dan diperhatikan adanya tanda kemerahan, pembengkakan, luka/ lecet,
massa atau duh tubuh vagina (cairan yang keluar dari dalam vagina,
bukan darah dan bukan air seni).
b.      Pasien pria, diperiksa dengan posisi duduk/ berdiri. Pemeriksaan
dilakukan dengan melihat pada daerah penis adanya tanda kemerahan,
luka/ lecet, duh tubuh uretra (cairan yang keluar dari uretra, bukan darah
dan bukan air seni) dan lesi lain. Pada pasien pria sebelum dilakukan
pemeriksaan diharapkan untuk tidak berkemih selama 1 jam (3 jam lebih
baik).
3.      Pengambilan spesimen
Pengambilan spesimen berdasarkan Kementerian Kesehatan RI dengan gejala duh tubuh uretra terdiri dari:
a.       Pasien laki-laki, pengambilan bahan duh tubuh genitalia dengan
sengkelit steril atau dengan swab berujung kecil.
b.      Pasien wanita sudah menikah, pengambilan spesimen dilakukan dengan menggunakan spekulum steril yang dimasukkan kedalam vagina.
c.       Pasien wanita belum menikah, pengambilan spesimen dilakukan tidak menggunakan spekulum karena dapat merusak selaput darahnya, tetapi digunakan sengkelit steril untuk pengambilan spesimen dari dalam vagina.
4.      Pemeriksaan laboratorium
a.       Mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopis yang digunakan adalah dengan pengecatan gram.
Pengambilan sampel dari swab endoservik pada wanita. Hasil positif akan tampak diplokokus gram negatif. Pengecatan positif pada wanita memiliki sensitivitas sebesar 30% - 50% dan spesifitas sebesar 90-99 %.
b.      Kultur
Untuk identifikasi dilakukan pembiakan dengan menggunakan media selektif yang diperkaya yaitu Media Thayer Martin yang mengandung vankomisin, dan nistatin yang dapat menekan pertumbuhan bakteri Gram positif, Gram negatif dan jamur, dimana tampak koloni berwarna putih keabuan, mengkilat dan cembung. Kultur diinkubasi pada suhu 350C – 370C dan atmosfer yang mengandung CO2 5%. Pemeriksaan kultur dengan bahan dari duh uretra pria, sensitivitasnya lebih tinggi 94% - 98% daripada duh endoserviks 85 % - 95%, sedangkan spesifisitasnya sama yaitu 99%.

Koloni Neisseria gonorrhoeae pada media Thayer Martin

1.6  Epidemiologi Penyakit Gonore (Frekuensi, Distribusi, Faktor Resiko, dan Cara Pencegahannya)
1.6.1        Frekuensi Penyakit Gonore
Gonore merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae yang lebih banyak terjadi pada wanita dari pada pria. Ties et al (2015) memperkirakan setiap tahun terdapat 78 juta penderita baru penyakit menular seksual (PMS) dan pada tahun 2012 tercatat data yang diperoleh untuk penderita baru penyakit yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae sebanyak 78,3 juta di seluruh dunia.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan pada tahun 2007 dan 2011 melakukan survey yang di kenal dengan nama surveilens terpadu biologis dan perilaku (STBP). Hasil STBP (2007) menyebutkan prevalensi penyakit gonore berjumlah 4.339 kasus terdiri dari wanita pekerja seks langsung (WPSL) sebanyak 1.872 kasus, wanita pekerja seks tidak langsung (WPSTL) sebanyak 1.105 kasus, waria sebanyak 512 kasus dan lelaki seks lelaki (LSL) sebanyak 850 kasus. Hasil STBP 2011 yang ditulis oleh Kementerian Kesehatan RI (2011) menyebutkan  prevalensi penyakit gonore berjumlah 4.644 kasus terdiri dari wanita pekerja seks langsung (WPSL) sebanyak 2.279 kasus, wanita pekerja seks tidak langsung (WPSTL) sebanyak 1.484 kasus, waria sebanyak 468 kasus dan lelaki seks lelaki (LSL) sebanyak 413 kasus.


Keterangan:
WPSL: Wanita Pekerja Seks Langsung
WPSTL: WPS Tidak Langsung
LSL: Lelaki Seks dengan Lelaki

1.6.2        Distribusi Penyakit Gonore
1.      Menurut Orang
Gonore dapat terjadi pada usia 15-24 tahun pada laki-laki dan perempuan. Pada wanita gejala awal gonore naik kesaluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam panggul sehingga timbul nyeri panggul dan gangguan reproduksi. Pada pria, gejala awal gonore biasanya timbul dalam waktu 2-7 hari setelah terinfeksi.
2.      Menurut Waktu
Kultur dari bakteri Neisseria gonorrhoeae dilaporkan pertama kali oleh Leistikow dan Loffer pada tahun 1882 dan dikembangkan pada tahun 1964 oleh Thayer dan Martin yang menemukan tempat biakan selektif pada media agar khusus. Media thayer-Martin merupkan media yang selektif untuk mengisolasi gonokok. Tahun 1980-an sampai pada 2005 di laporkan terjadi 339.593 kasus, dimana angka ini menunjukkan peningkatan, terutama pada Negara berkembang (termaksud Amerika Serikat).
3.      Menurut Tempat
Laporan WHO pada tahun 1999 secara global terdapat 62 juta kasus baru gonorrhea. 22,2 juta diantaranya terjadi di Asia Selatan, Asia Tenggara, Amerika Serikat dan di Jepang terdapat peningkatan kasus infeksi oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae yang sudah diresisten terhadap Ciprofloxacin. Dan di Indonesia data dari Dapartemen Kesehatan RI pada tahun 1988, angka insidensi gonorhea adalah 316 kasus per 100.000 penduduk. Beberapa penderita di Surabaya, Jakarta, dan Bandung terhadap PSK wanita menunjukkan bahwa prevalensi gonorrhra berkisar antara 7,4-50%.
1.6.3        Faktor Resiko Penyakit Gonore
Faktor resiko penularan infeksi gonore antara lain:
1.      Usia muda (18-39 tahun)
2.      Berganti-ganti pasangan seksual
3.      Homoseksual
4.      Status sosial ekonomi yang rendah
5.      Mobilitas penduduk yang tinggi
6.      Tidak menggunakan kondom
1.6.4        Pencegahan penyakit gonore
Cara profilaksis yang terbaik untuk menghindarkan infeksi gonore adalah sebagai berikut:
1.      Usia remaja diberikan informasi mengenai bahaya penyakit kelamin dan cara pencegahan penyakit kelamin.
2.      Pastikan toilet yang digunakan higienis, hindari penggunaan toilet duduk di tempat umum.
3.      Menghindari hubungan seksual di luar perkawinan.

Terapi
Pemilihan obat antimikroba sebaiknya bergantung pada pola sensitivitas isolat gonokokus, seringkali terapi harus diberikan sebelum pola tersebut diketahui. Dengan pengetahuan tentang sensitivitas obat pada strain yang ada di masyarakat, pemilihan obat yang sesuai dapat dilakukan dengan mudah.



Beberapa jadwal terapi gonore nonlomplikasi pada orang dewasa:
Obat antimikroba
Dosis
Komentar
Penisilin
Amoksisilin
Ampisilin
3        gr sesegera mungkin per oral
2-3, 5 gr sesegera mungkin per oral

Sefalosporin
Ceftriaxone
250 mg sesegera mungkin melalui suntikan IM
Hipersensitivitas pada pasien yang pekapensilin
Cefotaxime
500 mg sesegera mungkin melalui suntikan IM

Fluorokuinolon
ciprofloxacin
250-500 mg sesegera mungkin per oral
400 mg sesegera mungkin per oral
Hindari pada pasien hamil
Lain-lain
Spectinomycin
2 g dosis sesegera mungkin suntikan IM


Post a comment

0 Comments