PEDOMAN PERSIAPAN UJI KOMPETENSI NASIONAL PROGRAM STUDI NERS


PESERTA UJI KOMPETENSI

Calon peserta didaftarkan secara kolektif oleh program studi calon peserta. Mekanisme pemberitahuan dari program studi kepada para calon peserta (lulusan) bermacam-macam tergantung pengelola program studi. Informasi mengenai persyaratan, waktu dan biaya pendaftaran dapat dilihat di laman http://ukners.ristekdikti.go.id. Seluruh persyaratan peserta harus dipenuhi, jika ada salah satu dari Persyaratan tersebut tidak dipenuhi, proses pendaftaran tidak dapat dilakukan.

Berikut ini adalah ketentuan pendaftaran peserta uji kompetensi nasional secara daring (online):

Peserta Uji Kompetensi:

  1. Mahasiswa yang telah menyelesaikan program pendidikan dari institusi pendidikan yang memiliki izin operasional program studi dari Dirjen Dikti yang masih berlaku. Yang dimaksud dengan menyelesaikan program pendidikan ialah sudah menyelesaikan seluruh proses pembelajaran baik di kelas, laboratorium dan klinik-komunitas namun belum menerima ijazah saat didaftarkan. Tanda bukti yang diperlukan adalah surat keterangan yudisium bagi yang belum wisuda atau Ijazah bagi yang telah di wisuda.
  2. Mahasiswa profesi Ners yang lulus sejak 1 Agustus 2013, sudah memiliki ijazah namun belum lulus uji kompetensi (retaker).

Jumlah SKS yang telah diselesaikan 

Jumlah sks yang telah diselesaikan 2 semester atau minimal 25 SKS dengan kurikulum 2008 atau minimal 36 SKS dengan kurikulum KBK 2010. Syarat ini ditambahkan dengan sudah lulus sarjana keperawatan (S.Kep) yang dibuktikan dengan IPK sarjananya (S.Kep).

Mahasiswa harus terdaftar di Pangkalan Data Perguruan Tinggi atau PD Dikti (https://forlap.ristekdikti.go.id).

Mahasiswa dari program studi atau institusi yang sedang dalam proses pembinaan oleh Kemristekdikti, tidak diperkenankan mengikuti Uji Kompetensi Nasional. Status boleh tidaknya mahasiswa tersebut diberi- tahukan kepada Panitia oleh Kopertis bagi PTS dan oleh Direktorat Penjaminan Mutu bagi PTN.

CARA MENGERJAKAN SOAL

Dalam menghadapi ujian, peserta harus tetap tenang, fokus dan percaya diri. Awali dengan doa sebelum mengerjakan soal. Jangan berpikir apa yang tidak bisa, tapi pikirkan bahwa, Saya bisa. Berikut ini adalah beberapa cara praktis atau tips mengerjakan soal uji kompetensi nasional. 

1. Prioritaskan jawab soal yang mudah, jangan terpaku pada soal yang sulit. Namun pada akhir waktu ujian, pastikan semua soal dijawab dengan menggunakan logika umum. Jawaban benar nilai positif 1 dan tidak ada nilai negatif (pengurangan) untuk jawaban yang salah, maka isi semua jawaban soal.

2. Baca dengan cepat setiap kata (skimming). Kecepatan membaca ideal untuk ujian nasional adalah 300 kata per menit. Lebih cepat lebih baik. Jika dengan skiming belum bisa dipahami, baca setiap kata penting (scanning) dan buatlah analisa dan keputusan hanya berdasarkan data dan pertanyaan yang tertulis saja. Hindari bercampurnya data dan asumsi dalam menjawab soal.

3. Waktu rata-rata yang digunakan untuk menjawab soal adalah 60 detik. Perhati- kan waktu yang tersisa untuk memilih soal yang bisa dikerjakan dengan baik. Secara umum 60 detik dinggap waktu yang cukup untuk mengerjakan satu soal. Jangan terge- sa-gesa, fokus pada jawaban soal.

4. Pahami struktur soal. Struktur soal terdi- ri atas: vignette atau kasus dilanjutkan dengan pertanyaan dan diakhiri dengan 5 pilihan jawaban (a, b, c, d, e). Dalam soal uji kompetensi nasional, hanya disediakan hanya 1 PILIHAN jawaban benar. Berbeda dengan soal pada umumnya, dalam pilihan jawaban TIDAK ADA semua jawaban benar atau bukan salah satu jawa- ban diatas

5. Vignette biasanya berisi kasus klinis. Perhatikan 3 hal penting: keluhan utama yang ditampilkan, data klinis yang disa- jikan dan tempat pelayanan yang terjadi dalam kasus tersebut. Kemampuan menghubungkan 3 hal penting tersebut dapat membantu mengarahkan untuk mengelimininasi empat pengecoh (distractor) dan mencari satu pilihan jawaban yang paling tepat.

6. Yang perlu diingat, semua pilihan jawaban adalah homogen, tidak ada yang tampak mencolok salah atau berbeda. Pilihan hanya dari rentang dari kurang tepat hingga sangat tepat, atau rentang baik dan sangat baik. Pengecoh dibuat berdasarkan kenyataan lapangan. Ketepatan pilihan jawa- ban sangat dipengaruhi oleh pemahaman teori dan kata kunci. 

7. Perhatikan kata-kata kunci dalam pertanyaan, seperti diagnosa prioritas atau prioritas diagnosa, prioritas tindakan, tindakan terpenting atau tindakan prioritas. Bentuk lain bisa berupa kata-kata seperti tindakan pertama, tindakan awal, tindakan segera, segera, awalnya, pertama, atau prioritas. Kata-kata kunci ini adalah modal untuk fokus memilih jawaban yang semua tampak benar. 

8. Bacalah setiap pilihan jawaban yang tersedia sebelum menjawab. Eliminasi atau abaikan pilihan jawaban yang salah atau tidak mungkin. Fokuskan logika pada jawaban yang mungkin berdasarkan pada kata penting dalam vignette dan kata kunci pertanyaan. Bila tidak yakin, baca ulang pertanyaan sebelum memutuskan pilihan

9. Dasar pilihan jawaban disesuaikan den gan keadaan atau setting kasus dalam vignette

  • Prinsip umum adalah sesuai dengan teori keperawatan (bio-psiko-sosial-spiritual) dari klien yang digambarkan dalam vignette. Prinsip ini bergantung juga pada banyak hal, misalnya setting pelayanan.
  • Bila setting atau lokasi kejadian kasus berupa kegawatdaruratan, maka cara umum memilih prioritas berdasarkan masalah ABC (airway, breathing, circulation). Perkecualian pendekatan ABC untuk algoritma Bantuan Hidup Dasar yang CAB, berdasarkan katagori triase yang berlaku (merah, kuning, atau hijau) atau masalah ethik keperawatan. 
  • Bila kejadian kasus dalam vignette di ruang rawat atau non gawat darurat, hirarki kebutuhan Maslow (fisiologis, rasa aman, kasih sayang hingga aktualisasi diri) dapat dijadikan acuan memilih jawaban yang benar. Dalam memilih kebutuhan fisiologis (berlaku juga dalam setting gawat darurat) juga terdapat prioritas yang harus ditetapkan. 
  • Prioritas utama atau terpenting. Misalnya adalah diagnosa, maka pilihlah yang paling penting, paling mengancam ke- hidupan. Intervensi juga mer- upakan yang paling penting, berdampak besar dan atau bisa mencegah timbulnya masalah lain. 
  • Prioritas waktu. Misalnya adalah tindakan, maka pilihlah sesuai dengan kata kunci yang terdapat dalam pertanyaan. Jika ditanyakan prioritas perta- ma, maka carilah jawaban yang menunjukan bahwa tindakan tersebut harus dilakukan perta- ma kali sebelum tindakan lain, bahkan yang tindakan terpent- ing lain memerlukan tindakan tersebut dilakukan terlebih da- hulu. Namun jika pertanyaan berfokus pada tindakan utama, maka pilihlah hal terpenting yang harus dilakukan sesuai kebutuhan kasus dalam vignet. 
  • Kasus komunitas, manajemen, etik dan hukum atau pengembangan pro- fesionalisme tidak dapat menggu- nakan pendekatan kasus klinis gawat darurat dan ruang rawat. Pendekatan logika umum dapat digunakan jika logika secara teoritis tidak dikuasai. 

10. Selanjutnya, diperlukan pengetahuan kisi kisi atau proporsi soal di bab III dan lingkup dan materi sub bidang keilmuan di bab IV. Bacalah materi hingga selesai dari topik, sub topik dan elemen hingga mengerti dan benar-benar paham. Bacalah buku sumber yang dimiliki untuk memahami topik atau sumber rujukan lain seperti yang terdapat dalam buku ini. 

11. Pada setiap sub bidang ilmu, contohnya keperawatan gawat darurat terdapat contoh soal. Kerjakanlah soal tersebut dengan tips nomor 2-9 diatas tanpa melihat pembaha- san soal dan kunci jawaban.

12. Pahami pembahasan. Jika belum mengerti, baca kembali buku sumber yang disarank- an. Jika buku sumber sudah memahami na- mun jawaban belum sesluai dengan kunci, baca kembali tips no 3-9 diatas.

KISI-KISI SOAL UJI KOMPETENSI NASIONAL


kisi-kisi soal atau Blueprint adalah kerangka dasar yang merupakan pedoman yang di gunakan untuk merancang pengembangan soal uji kompetensi nasional. Soal ujian dibuat sesuai blueprint agar dapat menjamin asuhan keperawatan yang diberikan aman dan efektif serta menggambarkan karakter utama perawat (DIII atau Ners) sesuai dengan standar kompetensi kerja yang diharapkan. Kurikulum pendidikan biasanya mengacu standar kompetensi kerja untuk lulusan dalam proses pendidikanya. Pengetahuan calon peserta terhadap kisi-kisi soal juga amat penting untuk mempersiapkan materi ujian lebih proporsional. Blue- print terdiri dari 7 (tujuh) tinjauan penilaian yaitu area kompetensi; domain kompetensi; bidang keilmuan; proses keperawatan; upaya kesehatan; kebutuhan dasar manusia dan sistem tubuh (tabel blueprint lengkap terlampir). Ketujuh tinjauan mencadi acuan dalam meramu dan membuat ka- sus atau vignet soal aplikatif sesuai dengan situ- asi praktik atau kasus klien dan pertanyaan serta pilihan jawabanya. Pada buku ini akan dijelaskan hal umum yang perlu diketahui sebagai bahan ac- uan belajar calon peserta uji kompetensi nasional.

Proporsi terbesar soal pada Ukom Ners adalah asuhan dan manajemen asuhan keperawatan. Pada pendidikan DIII lebih fokus pada asuhan keperawatan

Proporsi Distribusi Soal Berdasarkan Sub Bidang Keilmuan

No

Keilmuan

Persentase

1

Keperawatan Medikal Bedah

25-37%

2

Keperawatan Maternitas

8-14%

3

Keperawatan Anak

8-14%

4

Keperawatan Jiwa

8-14%

5

Keperawatan Keluarga

8-14%

6

Keperawatan Gerontik

3-9%

7

Manajemen Keperawatan

3-9%

8

Keperawatan Gawat Darurat

3-9%

9

Keperawatan Komunitas

3-9%


Tabel 1 diatas menjelaskan tentang proporsi soal dari sub bidang keilmuan keperawatan. Dalam tabel diatas tidak disebutkan sub keilmuan lain yang diajarkan selama kuliah. Proporsi diatas sejalan dengan rerata jumlah jam dalam kurikulum dan sesuai dengan asumsi kebutuhan pemenuhan kompetensi standar kerja yang diperlukan dalam praktik yang aman dan efektif sebagai perawat. Selain proporsi diatas, terdapat proporsi berdasarkan kebutuhan dasar manusia pada mayoritas sub bidang keilmuan seperti dijelaskan dalam tabel.

Tabel 2. Proporsi Soal Berdasarkan Kebutuhan Dasar Manusia

No

Kebutuhan Dasar

Prosentase

1

Oksigenasi

10-14%

2

Cairan dan elektrolit

10-14%

3

Nutrisi

10-14%

4

Aman dan nyaman

10-14%

5

Eliminasi

7-11%

6

Aktivitas dan istirahat

7-11%

7

Psikososial

7-11%

8

Komunikasi

7-11%

9

Belajar

3-7%

10

Seksual

3-7%

11

Nilai dan keyakinan

3-7%




Bagaimana memaknai tabel dan tabel 2 diatas? Berikut ini adalah contoh penjelasan Keperawatan Medikal Bedah (KMB) yang dapat digunakan untuk menjelaskan sub bidang keilmuan yang lain kecuali manajemen dan komunitas. Satu paket soal terdiri atas 180 soal, KMB memiliki proporsi 25-37%, jika asumsi paket tersebut terdapat 28% soal KMB, maka akan ada 50 soal KMB, dari 50 soal KMB terdapat soal terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar oksigenasi sebanyak 10-14% atau sekitar 5-7 soal. Dari 5-7 soal diatas, topik apa saja yang berpotensi diujik- an dapat dilihat dalam tabel Lingkup dan Materi Sub Bidang Keilmuan. 

Selain tiga tinjauan yang telah dijelaskan diatas, ada 4 tinjauan lain yang akan diintegrasikan dalam soal. Tinjauan tersebut adalah tingkatan pengetahuan (kognitive, prosedural, afektif). Tingkatan kognitif soal adalah berpikir kritis, maka tidak akan ada soal ingatan murni (recall), semua soal aplikatif dengan menginte- grasikan data dalam kasus. Soal prosedural ada- lah soal terkait kasus hitung menghitung dengan rumus, seperti tetesan infus, GCS, tingkat ket- ergantungan serta soal terkait prosedur tindakan keperawatan. Soal afektif berkisar pada penge- tahuan afektif atau sikap terbaik perawat dalam menjalankan praktik keperawatan. Tinjauan lain yang diintegrasikan adalah proses keperawatan (pengkajian, diagnosa, perencanan, implementasi dan evaluasi), upaya kesehatan (promotive, preventive, kurative dan rehabilitative), dan sistem tubuh dan kesehatan (pernafasan, kardiovaskular dan lain sebagainya). Untuk itu, pastikan memiliki pemahaman lengkap dari setiap lingkup materi dari sub bidang keilmuan.

LINGKUP DAN ISI MATERI SUB BIDANG KEILMUAN


Pada bab ini akan dijelaskan matrik materi sesuai sub bidang keilmuan. Metode penjabaran   materi   dalam   matrik pada setiap sub bidang keilmuan tidak sama. Diharapkan dapat menambah wawasan pembaca. Perlu diingat, matrik ini hanya gambaran umum, soal uji kompetensi kemungkinan besar pada lingkup materi ini. Namun, bisa juga terdapat soal diluar yang tertulis dalam matrik umum ini yang masih dalam lingkup kompetensi seorang lulusan Ners.

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT DAN BENCANA

Modul Mata Ajar Keperawatan Gawat Darurat dan Bencana merupakan salah satu modul untuk mencapai kompetensi utama perawat sebagai pemberi palayanan kesehatan (care giver), khususnya pelayanan keperawatan yang terkait dengan kegawatdaruratan dan bencana. Dengan demikian, mahasiswa akan memperoleh suatu bentuk keilmuan dan keterampilan yang komprehensif dalam asuhan keperawatan gawat darurat dan bencana, yang akan dapat digunakan dalam pekerjaannya nanti sebagai ners dengan kualifikasi KKNI level 7.

  1. Menjelaskan konsep & asuhan keper awatan gawat darurat dan bencana
  2. Pengkajian & prioritas pasien gawat darurat
  3. Manajemen Awal Kegawat-daruratan
  4. ASKEP kegawatdaruratan pada klien dengan kasus Non-Trauma (Medikal)
  5. ASKEP kegawatdaruratan pada klien dengan kasus Trauma

KEPERAWATAN DEWASA (KMB)

Keperawatan Medikal Bedah merupakan bagian dari keilmuan keperawatan yang ditujukan bagi pasien yang berusia dewasa, lingkup umum kasusnya adalah penyakit dalam dan bedah. Capaian pembelajaran mata ajar keperawatan dewasa dalam program pendidikan Ners dirumuskan sesuai level 7 pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Bidang Pendidikan Tinggi. Sehingga penguasaan konsep dan aplikasi keilmuan dalam Keperawatan adalah tujuan setiap proses pembelajaran pada setiap pokok bahasannya. Pendekatan lingkup dan pembahasan dalam modul ini merujuk pada gangguan fungsi sistem tubuh yang dialami seorang pasien dewasa yang memunculkan kebutuhan akan layanan keperawatan. 

Lingkup dan isi pokok bahasan dalam modul pembelajaran Keperawatan Dewasa ini disusun sebagai berikut :
  1. Asuhan Keperawatan pada Pasien Gang guan Fungsi Sistem Pernapasan
  2. Asuhan Keperawatan pada Pasien Gangguan Fungsi Sistem Jantung dan Pembuluh Darah, limfatik
  3. Asuhan Keperawatan pada Pasien Gangguan Fungsi Sistem pencernaan, hati dan kandung empedu
  4. Asuhan Keperawatan pada Pasien Gangguan Fungsi Sistem saraf dan perilaku
  5. Asuhan Keperawatan pada Pasien Gangguan fungsi sistem penginderaan
  6. Asuhan Keperawatan pada Pasien Gangguan Fungsi Sistem Endokrin dan metabolisme
  7. Asuhan Keperawatan pada Pasien Gangguan Fungsi Sistem Muskulo-skeletal
  8. Asuhan Keperawatan pada Pasien Gangguan Fungsi sistem perkemihan
  9. Asuhan Keperawatan pada Pasien Gangguan Fungsi Sistem integumen
  10. Asuhan Keperawatan pada Pasien Gangguan Fungsi Sistem darah dan kekebalan tubuh

KEPERAWATAN ANAK

Modul Mata Ajar Keperawatan Anak diberikan kepada mahasiswa dengan tujuan agar mahasiswa mampu melaksanakan asu- han keperawatan pada bayi dan anak dengan berbagai gangguan sistem tubuh, menilai gangguan pertumbuhan dan perkembangan, dan melakukan pemberian imunisasi dasar sesuai dengan usia  anak. 
Ruang lingkup :
  1. Asuhan Keperawatan pada anak dengan gangguan sistem pernapasan
  2. Asuhan Keperawatan pada anak dengan gangguan sistem kardiovaskuler
  3. Asuhan Keperawatan pada anak dengan gangguan sistem persarafan
  4. Asuhan Keperawatan pada anak dengan gangguan sistem perkemihan
  5. Asuhan Keperawatan pada anak dengan gangguan sistem pencernaan
  6. Asuhan Keperawatan pada anak dengan gangguan sistem imun dan hematologi
  7. Melaksanakan asuhan keperawatan pada anak dengan gangguan tumbuh kembang
  8. Melaksanakan Imunisasi

KEPERAWATAN MATERNITAS

Pada akhir pembelajaran mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada perempuan pada periode childbearing, yaitu perempuan hamil, perempuan mela- hirkan, perempuan setelah melahirkan dan bayinya sampai umur 40 hari pada kondisi normal dan berisiko serta keluarganya dan pada perempuan pada periode di luar childbearing, yaitu remaja perempuan dan perempuan menopause dalam upaya menin- gkatkan kesehatannya sesuai dengan kebi- jaksaaan pemerintah pada program keseha- tan ibu dan anak.
Ruang Lingkup :
  1. Adaptasi biofisik pada perempuan periode chilbearing
  2. Gangguan-gangguan dan penyakit pada masa kehamilan, persalinan, dan nifas
  3. Gangguan-gangguan dan penyakit pada sistem reproduksi

KEPERAWATAN JIWA

Pada akhir pembelajaran mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada klien dalam rentang sehat jiwa sampai gangguan jiwa, dan penekanannya pada upaya pencegahan primer, sekunder, dan tertier kesehatan jiwa secara holistik (bio-psiko-sosio-cultural-spiritual). Ditujukan pada klien dengan masalah adaptasi biopsikososial spiritual dan gangguan jiwa dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan melalui komunikasi terapeutik serta menggunakan berbagai terapi modalitas. Termasuk isu, serta kecenderungan kesehatan jiwa serta peran perawat dalam menanggulanginya

Menerapkan proses keperawatan jiwa,prinsip-prinsip legal etis dan lintas budaya dalam asuhan keperawatan jiwa
  1. Menerapkan komunikasi terapeutik da lam memberikan asuhan keperawatan
  2. Asuhan keperawatan klien dengan mas alah psikososial
  3. Asuhan keperawatan klien yang men galami harga diri rendah dan isolasi sosial
  4. Asuhan keperawatan klien yang mengalami waham dan halusinasi
  5. Asuhan keperawatan klien yang men galami perilaku kekerasan dan risiko bunuh diri
  6. Asuhan keperawatan klien yang mengalami defisit perawatan diri
  7. Kegawat-daruratan psikiatrik
  8. Terapi modalitas

KEPERWATAN KOMUNITAS

Keperawatan komunitas merupakan integra- si dari Keperawatan Dasar di tingkat Klinik dan Keperawatan Komunitas. Kompetensi yang di butuhkan Lulusan Ners General di Komunitas tidak lepas dari Kompetensi yang harus di kuasai Perawat Klinik. Lingkup Bahasan pada persiapan pelaksanaan Uji KoMpetensi Retaker diharapkan mempersiapkan peserta UKNI dengan memahami asuhan keperawatan dengan kasus yang berpeluang ada di seluaruh Indonesia, minimal 5 Kasus yang ada atau viral di setiap provinsi dan berpeluang ditemukan di wahan praktik di Klinik ataupun di Komunitas dengan tidak mengabaikan Program-program Pemerintah di Komunitas. Lingkup bahasan yang dihara- pkan sekaligus mendasari penetapan soal- soal uji kompetensi Ners, antara lain:
  1. Asuhan Keperawatan di Komunitas dan Kelompok dengan Penyakit Tidak Menular (PTM)
  2. Asuhan Keperawatan di Komunitas Dan Kelompok Dengan Penyakit Menular (PM)
  3. Asuhan Keperawatan di komunitas dan Kelompok Dengan Penyakit Keturunan (Asma pada kelompok usia anak)pada kelompok usia
  4. Asuhan Keperawatan di Komunitas dan kelompok Akibat Perilaku Berisiko
  5. Asuhan Keperawatan di Komunitas Dan Kelompok dengan Penyakit Endemik (PE)
  6. Asuhan Keperawatan di Komunitas Dan Kelompok dengan penyakit yang diakibatkan oleh Virus
  7. Asuhan Keperawatan Pada Kelompok khusus di komunitas: UKS; Kesehatan Kerja
  8. Asuhan Keperawatan Pada Komunitas Dan Kelompok akibat bencana

KEPERAWATAN KELUARGA

Modul ini membahas mengenai asuhan keperawatan keluarga yang dilandasi oleh konsep konsep yang terkait dengan keluarga. Fokus yang dibahas dalam modul ini adalah konsep keluarga, asuhan keperawatan keluarga dengan menggunakan pendekatan proses. Lingkup Bahasan pada persiapan pelakanaan Uji Kompetensi Retaker diharapkan mempersiapkan peserta UKNI dengan memahami asuhan keperawatan keluarga dengan kasus yang berpeluang ada di seluruh Indonesia, minimal 5 Kasus yang ada atau viral di setiap provinsi dan berpeluang ditemukan di lingkup keluarga. Lingkup bahasan yang diharapkan sekaligus mendasari penetapan soal-soal uji kompetensi Ners, antara lain:

  1. Asuhan Keperawatan keluarga dengan Penyakit Tidak Menular (PTM)
  2. Asuhan Keperawatan keluarga Dengan Penyakit Menular (PM)
  3. Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Penyakit Keturunan (Asma pada kelom- pok usia anak)
  4. Asuhan Keperawatan Keluarga Akibat Perilaku Berisiko
  5. Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Penyakit Endemik (PE)
  6. Asuhan Keperawatan Keluarga dengan penyakit yang diakibatkan oleh Virus

KEPERAWATAN GERONTIK

Keperawatan Gerontik adalah mata ajar yang melingkupi pembahasan mengenai kebutuhan dasar manusia akan oksigenisa- si, sirkulasi, cairan nutrisi, eliminasi, mo- bilisasi, integritas kulit, istirahat dan tidur, thermoregulasi, keamanan dan kenyamanan, seksualitas dan reproduksi pada lanjut usia. Bertambahnya usia akan mengakibatkan terjadinya perubahan fisiologis pada semua sistem tubuh. Perubahan yang terjadi mer- upakan integrasi dari proses menua alami dan faktor risiko yang menyertai sehingga menjadi fokus kajian dalam keperawatan gerontik. Proses fisologis berbeda dengan kondisi patologis, sehingga dibutuhkan pengetahuan dan pemahaman yang baik pada lansia. Perawat dalam melakukan asuhan dan pelayanan keperawatan pada lanjut usia yang mengalami gangguan kebutuhan dasar tersebut membutuhkan pengetahuan dan ket- rampilan menyelesaikan masalah tersebut. Setting layanan kasus keperawatan gerontik saat ini adalah di rumah sakit yaitu ruang rawat dan poliklinik geriatri, di rumah dalam bentuk kunjungan rumah, dan di panti werdha.
  1. Konsep Keperawatan Gerontik
  2. Perubahan Fisiologis sistem tubuh pada lansia
  3. Perubahan Fungsi psikososial pada lansia
  4. Asuhan keperawatan pada lansia den gan masalah pemenuhan kebutuhan dasar

KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN PELAYANAN KEPERAWATAN

Mata ajar ini mempersiapkan mahasiswa agar mampu menjadi pemimpinan dan manajer pelayanan keperawatan yang mengimplementasikan gaya kepemimpinan, fungsi kepemimpinan, fungsi-fungsi manajemen, melakukan kajian analisis, menerapkam model asuhan keperawatan, melakukan audit mutu layanan keperawatan dan melakukan intervensi yang berfokus pada patien safety.
  1. Implementasi gaya kepemimpi-nan dan fungsi kepemimpi-nan dalam pelayanan keperawatan
  2. Implementasi fungsi-fungsi manajemen
  3. Komunikasi efektif dalam pelayanan keperawatan
  4. Model Asuhan Keperawatan
  5. Focus patient safety Manajemen konflik
  6. Mutu pelayanan keperawatan
  7. Pengelolaan SDM Rumah sakit
MATERI SELENGKAPNYA DAPAT DILIHAT DIBWAH INI

Post a comment

0 Comments