PROSES KEHAMILAN SAMPAI MENYUSUI


Kesehatan Reproduksi menurut World Health Organization (WHO)

Adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fumgsi-fungsinya serta proses-prosesnya (Harahap,2003).

Kesehatan reproduksi adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsinya serta proses – prosesnya.

Pengetahuan  Kesehatan reproduksi termasuk hak pria dan wanita untuk memperoleh informasi dan mempunyai akses terhadap cara-cara keluarga berencana yang aman, efektif dan terjangkau , pengaruh fertilitas yang tidak melawan hukum, hak memperoleh pelayanan pemeliharaan kesehatan. Kesehatan yang memungkinkan para wanita dengan selamat menjalani kehamilan dan melahirkan anak, dan memberikan kesempatan untuk memiliki memiliki bayi yang sehat. Sejalan dengan iru pemeliharaan kesehatan reproduksi merupakan suatu kumpulan metode, teknik dan pelayanan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan reproduksi melalui pencegahan dan penyelesaian masalah kesehatan reproduksi. 

Fisiologis kesehatan reproduksi

Fisiologis sistem reproduksi wanita

  1. Hormon FSH yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan sel-sel folikel sekitar sel ovum
  2. Hormon Estrogen yang berfungsi merangsang sekreasi hormone LH.
  3. Hormon LH yang berfungsi merangsang terjadinya ovulasi (yaitu proses pematangan sel ovum).
  4. Hormon progesteron yang berfungsi untuk menghambat sekresi FSH dan LH

 Fisiologis sistem reproduksi laki-laki

  1. FSH : Mestimulasi spematogenesis.
  2. LH : Menstimulir sel interstial leydig untuk memproduksi testosteren.
  3. Testosteron : Bertanggung jawab dalam perubahan fisik laki-laki terutama organ seks sekundernya.

Pertumbuhan dan perkembangan fungsi reproduksi


Saluran reproduksi manusia mempunyai peran penting dalam proses kehidupan manusia. Organ reproduksi diperlukan untuk menghasilkan keturunan. Reproduksi adalah kempuan makluk hidup untuk menghasilkan keturunan. Tujuan reproduksi adalah untuk mempertahankan jenisnya dan melestarikan jenis agar tidak punah. Organ reproduksi manusia baik pada pria dan wanita mempunyai bentuk dan fungsi yang berbeda-beda dan berkembang sesuai siklus kehidupan manusia.
Sistem reproduksi pada manusia akan mulai berfungsi ketika seseorang mencapai kedewasaan (pubertas) atau masa akil baligh. Pada seorang pria testisnya telah mampu menghasilkan sel kelamin jantan (sperma) dan hormon testosteron. Hormon testosteron berfungsi mempengaruhi timbulnya tanda-tanda kelamin sekunder pada pria, di antaranya suara berubah menjadi lebih besar, tumbuhnya rambut di tempat tertentu misalnya jambang, kumis, jenggot, dan dada tumbuh menjadi bidang, jakun membesar. 
Sedangkan seorang wanita ovariumnya telah mampu menghasilkan sel telur (ovum) dan hormon wanita yaitu estrogen. Hormon estrogen berfungsi mempengaruhi timbulnya tanda-tanda kelamin sekunder pada wanita, yaitu kulit menjadi semakin halus, suara menjadi lebih tinggi, tumbuhnya payudara dan pinggul membesar.
Reproduksi secara fisiologis tidak vital bagi kehidupan individual dan meskipun siklus reproduksi suatu manusia berhenti, manusia berhenti, manusia tersebut masih dapat bertahan hidup, sebagi contoh manusia yang dilakukan vasektomi pada organ reproduksinya (tester atau ovarium) atau mencapai masa pubertas atau dewasa kelamin dan hal ini diatur oleh kelenjar-kelenjar endokrin dan hormon yang dihasilkan dalam tubuh manusia.

FISIOLOGI REPRODUKSI PRIA

Hormon pada pria

Testosteron

Dihasilkan oleh sel interstisial yang terletak antara tubulus seminiferus. Sel ini jumlah sedikit pada bayi dan anak, tetapi banyak terdapat pada pria dewasa.
Setelah pubertas sel ini banyak menghasilkan hormon testosteron yang di sekresi oleh testis.
Fungsi testosteron adalah sebgai berikut:
a.       Efek desensus (penempatan) testis
Hal in menunjukkan bahwa testosteron merupakan hal yang penting untuk perkembangan seks pria selama kehidupan manusia dan merupakan faktor keturunan.
b.      Perkembangan seks primer dan sekunder
Sekresi testoteron setelah pubertas menyebabkan penis, testis, dan skrotum membesar sampai usia 20 tahun serta mempengaruhi sifat pertumbuhan seksual sekunder pria mulai pada masa pubertas.

Hormon gonadotropin

Kelenjar hipofisis anterior menghasilkan dua macam hormon yaitu lutein hormon dan folikel stimulating hormon. Bila testis di rangsang oleh LH dari kelenjar hipofisis, maka sekresi testosteron selama kehidupan fetus penting untuk peningkatan pembentukan seks pria. 

Hormon estrogen

Dibentuk dari tstosteron dan di rangsang oleh hormon perangsang folikel. Hormon ini memungkinkan spermagonosis untuk menyekresi protein pengikat endogenuntuk mengikat testosteron dan estrogen serta membawa keduanya kedalam cairan lumen tubulus seminiferus untuk pematangan sperma.

Hormon pertumbuhan

Di perlukan untuk mengatur latar belakang fungsi metabolisme testis secara kusus dan untuk meningkatkan pembelahan awal spermatogenesis sendiri. Bila tidak terdapat hormon pertumbuhan maka spermatogenesis sangat berkurang atau tidak ada sama sekali.  

Fisiologi sperma

Mortilitas dan fertilitas sperma menjadi karena gerakan flagella melalui medium cairan. Sperma normal cenderung untuk bergerak lurus dari paa berputar. Aktivitas ini di tingkatkan dalam medium netral dan sedikit basa. Pada medium yang sangat basa dapat mematikan sperma dengan cepat. Aktivitas sperma dapat meningkat bersamaan dengan peningkatan suhu dan kecepatan metabolisme. Sperma pada traktus genitalia wanita hanya hidup 1 sampai 2 hari.

Fungsi Vesikula Seminalis

Epitel sekretorik menyekresi bahan mukus yang mengandung fruktosa, asam sitrat, prostaglandin, dan fibrinogen. Setelah itu vans deferens mengeluarkan sperma dan menambah semen yang di ejakulasi, fruktosa, dan gizi gizi lainnya yang di butuhkan oleh sperma untuk membuahi ovum.
Semen
Cairan semen berasala dari vas deferens dan merupaka cairan yang terkakhir di ejakulasi. Semen berfungsi untuk mendorong sperma keluar dari duktus ejakulatoorius dan uretra. Cairan dari vesikula seminalis membuat semen lebih kental. Enzim pembeku dari cairan prostat menyebabkan fibrinogen dari cairan vesikula seminalis membentuk kuagulum yang lemah.
Spermatogenesis
Tubulus seminiferis mengandung banyak sel epitel germinativum yang berukuran kecil dinamakan spermatogenia, menjadi spermatogensit, dan membelah diri membentuk 2 spermatosit yang masing masing mengandung 22 kromosom setelah beberapa minggu menjadi spermatozoa.
Pematangan sperma
Setelah terbentuk dalam tubulus seminiferus sperma membutuhkan waktu beberapa hari untuk melewati epididimis. Sperma bergerak dari tubulus seminiferus kebagian awal epididimis selama 18-24 jam.
Penyimpanan sperma
Kedua testis dapat membentuk sperma kurang lebih 120 juta setiap hari. Sejumlah kecil sperma dapat disimpan dalam epididimis, sedangkan sebagian sisanya di simpan dalam vas deferens dan ampula vas deferens sehingga dapat mempertahankan fertilitasnya dalam duktus genitalis dalam satu bulan.

Fungsi kelenjar prostat
Kelenjar prostat menghasilkan cairan encer yang mengandung ion sitrat, ion pospat, enzim pembeku, dan profibinosilin. Selama pengisian kelenjar prostat berkontraksi sejalan dengan kontraksi vas deferens sehingga cairan encer dapat dikeluarkan untuk menambah lebih banyak jumlah semen.

KEGIATAN SEKSUAL PRIA

Rangsangan akhir organ sensorik dan sensasi seksual menyebar melalui saraf pudendus melalui pleksus sakralis dari medula spinalis untuk membantu rangsangan aksi seksual dalam mengirim sinyal kemedula dan berfungsi untuk meningkatkan sensasi seksual yang berasal dari struktur interna. Dorongan seksual akan mengisi organ seksual degan sekret yang menyebabkann keinginan seksual dengan merangsang kandung kemih dan mukosa uretra.

PENGATURAN FUNGSI REPRODUKSI

Pengaturan fungsi reproduksi di mulai dari pelepasan hormon gonadotropin oleh hipotalamus lalu merangsang kelenjar hipofisis anterior untk menyekresi lutein hormon. Hormon perangsang lutein hormon dan folikel stimulating hormon. Lutein hormon merupkan rangsangan utama untuk sekresi testosteron oleh testis dan folikel stumulating. Ejakulasi disertai orgasme merupakan titik kulmunasi aksi seksual laki laki semen di ejeksikan melalui serangkaian semprotan.
1.  Impils simpatis dari pusat refleks medula spinalis menjalar di spanjang spinal lumbang menuju urogenital dan menyebabkan kontraksi peristaltik dalam duktus testis epididimis dan duktus deferens.
2. Impuls parasimpati menjalar pada pusat pudendal dan menyebabkan otot bulbo kkaverbosum pada dasar penis berkontraksi secara berirama.
3.  Kontraksi awal pada vesikel seminalis prostat dan kelenjar bulburektalis menyebabkan terjadinya sekresi cairan seminal yang bercampur dengan sperma untuk membentuk semen.
  

PENGARUH GnRH MENINGKATKAN SEKRESI LH DAN FSH

Hipotalamus melepaskan gonadotropin hormone yang diangkut oleh kelenjar hipotalamus anterior untuk merangsang pelepasan LH dan FSH dalam darah porta. Perangsanga  hormon ini di tentukan oleh frekuensi dari siklus sekresi dan dari jumlah GnRH yang diu lepas dari setiap siklus. Sekresi LH mengikuti pelepasan GnRH lalu sekesi FSH berubah lebih lambat sebagai respon perubahan jangka panjang GnRH.

PENGATURAN SPERMATOGENESIS

FSH melekat pada sel sel dalam tubulus seminiferus. Peningkatan ini mengakibatkan sel tubuh dalam menyekresi bebagai unsur spermatogenentik. Secara bersamaan testosteron berdifusi kedalam tubulis dalam ruang interstisial yang mempunyai efek tropik terhadap spermatogenesis.

SEKRESI METABOLISME DAN SIFAT KIMIA

Sekresi androgen dalam tubuh memiliki efek maskulunisasi termasuk testosteron. Aktivitas maskulunisasi dari semua hormom sangat sedikit yaitu kurang dari 5% seluruh aktivitas tubuh orang deawasa. Sifat kimia androgen adalah senywa steroid untuk testosteron yang dapat dibentuk dari kolesterol langsung dari kosetil koenzim A. setelah testosteron di metabolisme dan disekresi testis sekitar 97% testosteron akan menjadi lemah ikatannya dengan albumin plasma atau lebih kuat berikat dengan globulin yang disebut globulin pengikat hormon kelamin dan bersirkulasi dengan darah.



FISIOLOGI ALAT REPRODUKSI WANITA

Masa pubertas pada wanita merupakan masa produktif yaitu masa untuk mendapat keturunan, yang berlangsung kurang lebih 40 tahun. Setelah itu wanita memasuki masa klimaterium yaitu masa peralihan antara masa reproduksi dengan masa senium,  dimana haid berangsur angsur berhenti selama 1-2 bulan dan kemudian berhenti ama sekali yang di sebut menopouse. Selanjutnya terjadi kemunduran alat reproduksi , organ tubuh, dan kemampuan fisik.


MENSTRUASI

Pada wanita yang sehat dan tidak hamil , setiap bulan secara teratur mengeluarkan darah dari alat kandungannya yang di sebut menstruasi.
Stadium menstruasi (desquamasi)
Pada masa ini endometrium terlepas dari dinding rahim di sertai dengan perdarahan hanya lapisan tipis yang tertinggal di sebut straum basale. Stadium ini berlangsung selama 4 hari . melalui haid keluar darah potongan endometrium dan lendir dari serviks. Daarah ini ntidak membeku larena adanya fermen yang mencegah pembekuan darah dan mencairkan potongan mukosa. Banyaknya perdarahan selama haid 50cc.
Stadium post menstrum ( regenerasi )
Lika karen endometrium terlepas, lalu berangsur angsur di tutup kembali oleh selaput lendir baru dari sel epitel kelenjar endometrium. Pada masa ini tebal endometrium kira kira 0,5 mm stadium ini berlangsung selama 4 hari.
Stadium inter menstruum (proliferasi)
Pada masa ini endometrium tubuh menjadi tebal 3-5 mm kelenjar tubuh lebih cepat dari jaringan lain/stadium ini berlangsung 5-14 hari dari hari pertama haid.
Stadium pra menstruum (sekresi)
Pada masa ini endometrium tetap tebal tetapi bentuk kelenjar berubah menjadi panjang dan berliku liku serta mengeluarkan getah. Dala endometrium telah tertimbun glikogen dan kapur yang di perlukan sebagai makanan untuk sel telur. Perubahan ini dilakukan untuk mempersiapkan endometrium dalam menerima sel telur.
                 

SIKLUS OVARIUM

Dalam ovarium terdapat banyak sel sel telur muda yang di kelilingi oleh sel gepeng, bangunan ini di sebut folikelpremordial sebelum pubertas ovarium masih dalam keadaan istrahat. Sedangkan pada waktu pubertas ovarium berada dibawah pengaruh hormon dari lobus hiofisis anterior yaitu folikel stimulating hormon. Folikel premordial mulai tumbuh walaupun hanya satu yang matang kemudian pecah, dan yang lainnya mati.

PEMATANGAN FOLIKEL PREMORDIAL

Mula mula sel di kelilingi ovum berlipat ganda kemudian timbul diantara sel rongga yang berisi cairan. Liquor folikuli. ovum terdesak kepinggir dan terdpat di tengah tumpukan sel yang menonjol kedalam rongga folikel. Tumpukan sel dengan sel telur  di dalamnya disebut cumulus ophurus.
1.      Theca interna ( lapisan vesikula interna ) yang banyak mengandung pembuluh darah
2.      Theca eksterna (lapisan febrosa eksterna0yang terdiri atas jaringan ikat padat.

KORPUS LUTEUM MENSTRUATIONUM

Mempunyai masa hidup 8 hari setelah berdegenerasi dan di ganti dengan jaringan ikat yang menyerupai stroma ovarium. Korpus luteum yang berdegenerasi disebut korpus albikan yang berwarna putih.setelah itu pembentukan hormon progesteron           dan estrogen mulai berkurang bahkan berhenti sama sekali. Keadaan ini menghasilkan iskemia dan ekosis endrometrium disusul dengan menstruasi. Estrogen dapat menyebabkan proliferasi dari enrometrium fase ini disebut fase folikuler yang berlangsung pada hari pertama menstruasi sampai ovulasi.

KORPUS LUTEUM GRAVIDITATUM

Setelah terjadi ovulasi , sel telur masuk kedalam tuba dan di angkut ke kavum uteri. Hal ini terjadi pada waktu ovulasi dimana ujung ampula tuba akan menutup permukaan ovarium. Selanjutnya sel telur di gerakkan oleh peristaltik dan rambut getar dari sel sel selaput lendir tuba kearah kavum uteri. Jika tidak terjadi kehamilan sel telur mati dalam beberpa jam akan tetapi bila terjadi kehamilan maka terjadilah pertemuan dan persenyawaan dari sel telur dan sel sperma dalam ampila tube. Sel telur yang telah di buahoi berjalan ke kavum uteri dan menanamkan diri dalam endometrium inin lah yang di sebut nidasi. Zigot mengeluarkan hormon hingga korpus luteum biasanya hidup hanya 8 hari.


HORMON WANITA

HORMON ESTROGEN

Di sekresi oleh sel sel trache intrafolikel ovarium,korpus luteum, dan plasenta. Estrogen mempermudah pertumbuhan folikel ovarium dan meningkatkan pertumbuhan tuba uterus, jumlah otot uterus, serta kadar protein kontraktil uterus. Estrogen mempengaruhi organ endokrin dengan menurunkan sekresi FSH dimana beberapa keadaan akan menghambat sekresi LH dan pada keadaan lain meningkatkan LH.

HORMON PROGESTERON

Di hasilkan oleh korpus luteum dan plasenta, bertanggung jawab atas perubahan endometrium, dan perubahan siklik dalam serviks serta vagina. Progesteron juga berpengaruh anti estrogenik pada sel sel miometrium menurunkan kepekaan otot tersebut, sensitivitas miometrium terhadap oksitosin , dan aktivitas listrik spontan.miometrium sementara meningkatkan potensial membran serta bertanggung jawb meningkatkan suhu basal tubuh pada saat ovulasi.

FOLIKEL STIMILATING HORMON

Mjulai di temukan pada wanita umur 11 tahun dan jumlahnya terus menerus bertambah sampai dewasa.

LUTEIN HORMON

LH bekerja sama dengan FSH untuk menyebabkan terjadinya sekresi estrogemn dari folikel dee graaf.LH juga menyebabkan penimbunan substansi dari progesteron dalam sel granulosa.

PROLAKTOIN ATAU LUTEOTROPIN HORMONE (LTH)

Ditemukan pada wanita yang mengalami menstruasi jumlah terbanyak terdapat pada urin wanita hamil , masa laktasi, dan menopouse.

Tanda – tanda kematangan reproduksi remaja pria dan wanita

Secara fisik, seorang anak akan terlihat memasuki fase remaja dengan jelas. Di dalam tubuhnya akan muncul karakteristikseks sekunder, diikuti dengan perkembangan seks primer, serta terjadinya perubahan dalam ukuran dan bentuk tubuhnya. Apa yang disebut dengan seks sekunder? Seks sekunder merupakan tanda-tanda seorang anak telah matang. Hal ini ditandai dengan tumbuhnya rambut dibeberapa bagian, serta perubuhan-perubahan fisik lainya. Kalian para remaja putra, akan timbul rambut di bagian: kemaluan,kumis,jenggot,bulu dada,bulu tangan dan kaki, bulu ketiak, adanya perubahan jenis suara, dari anak-anak ke suara paru dan besar seperti orang dewasa, serta timbulnya jakun.
      Dan untuk remaja putri, juga akan timbul rambut di beberapa bagian: kemaluan, ketiak, kadang timbul bulu tipis di wajah, tangan dan kaki, tapi tidak lama lagi akan hilang, adanya perubuhan suara, dari anak-anak ke suara dewasa yang rendah, halus dan dalam. Karaktreristik-karakteristik diatas selalu mendahului tanda-tanda seorang anak memasuki masa remaja. Setelah timbul karakteristik seks sekunder, akan timbul karakteristik seks primer. Remaja putra akan mengalami membesarkan ukuran oragan reproduksi luar, yaitu penis, skrotum, dua testi yang ada didalamnya. Membesarkan oragan ini merupakan persiapan fisik aslinya, yaitu untuk alat reproduksi. Kematangan ini ditandai dengan pengalaman mimpi basah.
Dan bagi remaja perempuan akan mengalami mebesarnya ukuran daerah perut yang berada tepat di atas kemaluan. Hal ini disebabkan oleh membesarnya ukuran organ reproduksi yang berda di dalamnya. Kematangan ini ditandai dengan menstruasi. Secara fisikpun, kalian akan mengalami perkembangan yang sangat cepat. Tubuhmu tiba-tiba menjadi tinggi dan besar. Hal ini sering disebut dengan percepatan pertumbuhan atau lonjakan pertumbuhan. Lonjakan pertumbuhan anak putri terjadi pada usia 11 atau 12 tahun dan melewati pertumbumbuhan anak putra dalam ukuran tinggi badan. Hal ini berlangsung sampai usia 14 tahun. Pada usia 15 tahun, pertumbuhan anak putri mulai melambat. Lain halnya dengan anak putra, terjadi lonjakan pertumbuhan pada usia 14 tahun, pada mas ini pertumbuhannya melampaui anak putri. Dalam perkembangannya, anak putra mengalami pertumbuhan yang pesat mulai usia 16 hingga 20 tahun. ( Akram Ridha, 2006).

Siklus Reproduksi Wanita dari Menstruasi sampai Kehamilan

Pada wanita, peran hormon dalam perkembangan oogenesis dan perkembangan reproduksi jauh lebih komplek dibandingkan para pria. Salah satu peran hormon pada wanita dalam proses reproduksi adalah dalam siklus mentruasi.
Siklus menstruasi
Menstruasi (haid) adalah pendarahan secara periodik dan siklik dari uterus yang disertai pelepasan endometrium. Mentruasi terjadi jika ovum tidak dibuahi oleh sperma. Siklus mentruasi sekitar 28 hari. Pelepasan ovum yang berupa oosit sekunder dari ovulasi, yang berkaitan dengan adanya kerjasama antara hipotalamus dan ovarium, yang berkaitan dengan adanya kerjasama anatara hipotalamus dan ovarium. Hasil kerjasama tersebut akan memacu pengeluaran hormon-hormon yang mempengaruhi mekanisme siklus mentruasi. Untuk mempermudah penjelasan mengenai siklus mentruasi, patokannya adalah adanya peristiwa yang sangat penting, yaitu ovulasi. Ovulasi terjadi pada pertengahan siklus (1/n) mentruasi. Untuk periode atau siklus hari pertama menstruasi , ovulasi terjadi pada hari ke-14 terhitung sejak hari pesrtama mentruasi . siklus menstruasi dikelompokkan menjadi empat fase, yaitu fase mentruasi, fase pra-ovaluasi, fase ovaluasi, fase pasca ovaluasi.
Fase menstruasi
Fase menstruasi terjadi bila ovum tidak dibuahi oleh sperma, sehingga korpus luteum akan menghentikan produksi hormon estrogen dan progesteron. Turunya kadar estrogen dan progesteron menyebabkan lepasnya ovum tersebut menyebabkan endometrium sobek atau meluruh, sehingga dindingnya menjadi tipis. Peluruhan pada endometrium yang mengandung pembuluh dara menyebabkan terjadinya pendarahan pada fase menstruasi. Pendarahan ini biasanya berlangsung selama lima hari . bolume darah yang dikeluarkan rata-rata sekitar 50ml.
Fase pra-ovulasi
Pada fase pra-ovulasi atau akhir menstruasi, hipotalamus mengeluarkan hormon gonadotropin. Gonadotropin merangsang hipofisik untuk mengeluarkan FSH, adanya FSH merangsang pembentukan folikel primer di dalam ovarium yang mengelilingi satu oosit primer. Folikel primer dan oosit primer akan tumbuh sampai hari ke-14 hingga folikel menjadi matang atau disebut folikel de Geaff dengan ovum di dalanya. Selama pertumbuhan folikel juga mempengaruhi serviks untuk mengeluarkan lendir yang bersifat basa. Lendir yang bersifat basa berguna untuk menetralkan sifat asam pada serviks agar lebih mendukung lingkungan hidup sperma.
Fase ovulasi
Pada fase mendekati fase ovulasi atau mendekati hari ke-14 terjadi perubahan produksi hormon.  Peningkatan kadar estrogen selama fase pra-ovylasi menyebankan reaksi umpan balik negatif atau penghambatan terhadap pelepasan FSH lebih lanjut dari hipofisis. Penurunan konsentrasi FSH menyebabkan hipofisik melepaskan LH. LH merangsang pelepasan oosit sekunder dari folikel de Graaf. Pada saat inilah disebut ovulasi, yaitu saat terjadi pelepasan oosit. Sekunder dari folikel de Graaf dan siap dibuahi oleh sperma. Umunya ovulasi terjadi pada hari ke-14.
Fase pasca-ovulasi
Pada fase pasca-ovulasi, folikel de Graaf yang ditinggalkan oleh oosiy sekunder karena pengaruh LH dan FSH akan berkerut dan berubah menjadi korupus leteum. Korpus luteum tetap memperoduksi estrogen (namun tidak sebanyak folikel de Graf memproduksi estrogen) dan hormon lainnya, yaitu progesteron. Progesteron mendukung kerja estrogen dengan menembalkan dinding dalam uterus atau endometrium dn menumbuhkan pembuluh-pembuluh dara pada vagina dan pertumbuhan kelenjar susu pada payudara. Keseluruhan fungsi progesteron (juga estrogen) tersebut berguna untuk menyiapkan penanaman (implantasi) zigot pada uterus bila terjadi pembuahan atau kehamilan. Proses pasca-ovulasi ini berlangsung dari hari ke-1 sampai ke-28. Namun, bila sekitar hari ke-26 tidak terjadi pembuahan, korpus luteum, akan berubah menjadi korpus albikan. Korpus albikan memiliki konsentrasi estrogen dan progesteron akan menurun. Pada kondisi ini, hipotesis menjadi aktif untuk melepaskan FSH dan selanjutnya LH, sehingga fase pasca-ovulasi akan tersambung kembali dengan fase mentruasi berikutnya.

Fertilisasi

Fertilisasi atau perubahan terjadi saat oosit sekunder yang mengandung ovum dibuahi oleh sperma. Fertilisasi umunya terjadi segera setelah oosit sekunder memasuki oviduk. Namun, sebelum sperma dapat memasuki oosit sekunder, pertama-tama sperma harus menembus berlapis-lapis sel granulosa yang melekat di sisi luar oosit sekunder yang disebut korona radiata. Kemudian, sperma juga harus menembus lapisan sesudah korona radiata, yaitu zona pelusida. Zona pelusida merupakan lapisan disebalah dalam korona radiata, berupa glikoprotein yang membungkus oosit sekunder. Sperma dapat menembus oosit sekunder karena baik sperma maupun oosit sekunder saling mengeluarkan enzim dan atau senyawa tertentu, sehingga terjadi aktivitas yang saling mendukung . pada saat satu sperma menembus oosit sekunder, sel-sel granulosit di bagian korteks oosit sekunder mengeluarkan senyawa tertentu yang menyebabkan zona pelusida tidak dapat ditembus oleh sperma lainnya. Adanya penetrasi sperma juga merangsang penyelesaian meiosis II pada inti oosit sekunder, sehingga dari seluruh proses meiosis I sampai penyelesaian meiosis II dihasilakan tiga badan polar dan satu ovum yang disebut inti oosit sekunder. Segera setelah sperma memasuki oosit sekunder, inti (nukleus) pada kepala sperma akan membesar. Sebaliknya, ekor sperma akan berdegenerasi. Kemudian, inti sperma yang mengandung 23 kromosom (haploid) dengan ovum yang mengandung 23 kromosom (haploid) akan bersatu menghasilakan zigot dengan 23 pasangan kromosom (2n) atau 46 kromosom.

Gestasi (kehamilan)

Zigot akan ditanam (diimplantasikan) pada endrometrium uterus. Dalam perjalanan ke uterus, zigot membelah secara mitosis berkali-kali. Hasil pembelahan tersebut berupa sekelompok sel yang sama besarnya, dengan bentuk seperti buah arbei yang disebut tahap morula.


Proses Kehamilan

Kehamilan merupakan suatu proses yang alamiah dan fisiologis. Setiap wanita yang memiliki organ reproduksi sehat, yang telah mengalami menstruasi, dan melakukan hubungan seksual dengan seorang pria yang organ reproduksinya sehat sangat besar kemungkinannya akan mengalami kehamilan. Apabila kehamilan ini direncanakan, akan memberi rasa kebahagiaan dan penuh harapan . Selama pertumbuhan dan perkembangan kehamila dari bulan diperlukan kemampuan seorang ibu hamil untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada fisik dan mentalnya.  Perubahan ini terjadi akibat adanya ketidak seimbangan hormon progestrogen dan hormon estrogen yakni hormon kewanitaan yang ada di dalam tubuh ibu sejak terjadinya proses kehamilan. Adanya ketidak seimbangan hormon ini akan merangsang lambung sehingg asam lambung menjadi meningkat, dan menimbulkan rasa mual sampai muntah, bila adaptasi ibu tidak kuat. Bahkan ada yang sampai tidak mampu lagi menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari, misalnya memasak, mecuci, mandi, makan, bahkan harus istirahat di tempat tidur, sampai ada yang dirawat dirumah sakit. Pada ibu hamil yang mampu beradaptasi terhadap perubahan keseimbangan hormon ini, perasaan mual tidak begitu dirasakan, mereka bisa melaksanakan aktivutas sehari-hari seperti tidak hamil.  

Awal proses kehamilan

Kehamilan (alamiah) terjadi akibat adanya pembuahan sel telur di dalam indung telur wanita oleh sperma. Dalam proses alamiah, ini terjadi karena sperma masuk ke indung telur melalui saluran rahim pada saat melakukan berhubungan badan. Normalnya, wanita hanya memproduksi satu sel telur setiap bulannya. Dilain tubuh pria bisa memproduksi sprerma terus menerus dalam jumlah besar. Rata-rata setiap semprotan air mani mengandung 100-200 juta sperma. Namun dari jumlah tersebut hanya satu yang berhasil menembus indung telur dan membuahi sel telur. Ini merupakan salah satu bentuk seleksi alam untuk memilih bibit yang terbaik. Apabila pembuhan ini berhasil, dari satu sel telur yang telah dibuahi dan berukuran 0,2mm akan terus berkembang biak dan berpindah ke dalam rahim. Kurang lebih sekitar 7-10 hari setelah pembuhan, sel telur yang telah dibuahi akan masuk dan menempel di selaput dalam rahim. Dianalogikan dengan kasur, selaput dalam rahim ini tebal dan lunak sehingga bisa melindungi sel telur yang telah dibuahi. Pada tahap ini kehamilan sudah dimulai.
Selama ini sel telur yang telah dibuahi tersebut terus berbiak dan membentuk semcam akar/rambut yang halus. Ini menyerap gizi yang berkandung dalam selaput dalam rahim sehingga bisa terus berkembang. Rambut-rambut hlus ini nantinya memiliki fungsi yang sangat penting untuk janin. Pada sekitar hari ke 5, sel telur yang telah dibuahi dan keluar dari indung telur sudah berbentuk sebagai satu garis. Peratama yang terbentuk adalah syaraf. Perkembangan berikutnya terbagi dua yaitu otak dan sumsum. Segera setelah ini cikal bakal organ tubuh penting seperti jantung, pembulu darah, otot, dll sudah mulai terbentuk.  Dilain pihak plasenta (ari-ari) yang berfungsi menyelimuti janin selama proses kehamilan juga sudah mulai terbentuk. Sampai usia kehamilan 3 minggu ini janin masih belum bisa dideteksi. Pada saat ini kepala bayi kurang lebih setengah dari panjang badan, dimana bayi masih tampak seperti ekor saja.

Proses kehamilan dan perkembangan janin dalam kandugan

Prose kehamilan adalah prose dimana bertemunya sel telur dengan sel sperma hingga terjadinya pembuahan. Proses kehamilan (gestasi) berlangsung selama 40 minggu atau 280 hari dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir. Usia kehamilan sendiri adalah 38 minggu, karena dihitung mulai dari tanggal konsepsi (tanggal bersatunya sperma dengan telur), yang terjadi dua minggu setelahnya.

Dalam dunia kedokteran, proses kehamilan dibagi menjadi tiga fase sesuai dengan pertumbhan fisik bayi. Masing –masing fase tersebut disebut trimester:

a.       Trimester pertama (minggu 0-2)

Dalam fase ini ada tiga periode penting pertumbuhan mulai dari periode germinal sampai periode terbentuknya fetus.
1)      Periode Germinal ( minggu 0-3)
Proses pembuahan telur oleh sperma yang terjadi pada minggu    ke-2 dari hari pertama mestruasi terakhir. Telur yang sudah dibuahi sperma bergerak dari tuba falopi dan menempel ke dinding uterus (endometrium).

2)      Periode Embrio (minggu 3-8)
Proses dimana sistem syaraf pusat, organ-organ utama dan struktur anatomi mulai terbentuk seperti mata, mulut dan lidah mulai terbentuk, sedangkan hati mulai memproduksi sel darah. Janin mulai berubah dari blastosis mrnjadi embrio berukuran 1,3 cm dengan kepala yang besar.

3)      Periode Fetus (minggu 9-12)
Periode dimana semua organ penting terus bertumbuh dengan cepat dan saling berkaitan dan aktivitas otak sangat tinggi.

b) Trimester kedua ( minggu 12-24)

      Pada trimester kedua ini terjadi peningkatan perkembangan janin. Pada minggu ke-18 kita bisa melakukan pemeriksaan dengan ultrasongrafi (USG) untuk mengecek kesempurnaan jani, posisi plasenta dan kemungkinan bayi kembar. Jaringan kuku, kulit dan rambut berkembang dan mengeras pasa minggu ke 20-21.
 Indera penglihatan dan pendengaran janin mulai berfungsi. Kelopak mata sudah dapat membuka dan menutup. Janin (fetus) mulai tampak sebagai sosok manusia dengan panjang 30cm.

c) Trimester ketiga (24-40)

      Dalam trimester ini semua organ tubuh tumbuh dengan sempurna. Janin menunjukkan aktivitas motorik yang terkoordinasi seperti menendang atau menonjok serta dia sudah memiliki periode tidur dan bangun . masa tidurnya jauh lebih lama dibandingkan masa bangun. Paru-paru berkembang pesat menjadi sempurna.
      Pada bulan ke-9 ini,  janin mengambil posisi kepala di bawah dan siap untuk dilahirkan. Berat bayi lahir berkisaran 3-3,5 kg dengan panjang 50 cm.

PROSES MENYUSUI

Menyusui adalah proses pemberian susu kepada bayi dengan air susu ibu dari payudar ibu. Bayi mengguakan reflek menghisap untuk mendapatkan dan menelan susu. Seorang bayi dapat disusui oleh ibunya sendiri atau oleh wanita lain (Yohana, 2011).
Bagaimana cara menyusui bayi yang benar.
The American Academy of Pediatrics merekomendasikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama dan selanjutnya minimal selama 1 tahun. WHO dan UNICEF merekomendasikan ASI eksklusif selama 6 bulan, menyusui dalam 1 jam pertama setelah melahirkan, menyusui setiap kali bayi mau, tidak menggunakan botol dan dot. Menyusui sebaiknya dilakukan sesegera mungkin setelah melahirkan. Bayi dan ibu yang melakukan proses menyusui dalam 1 jam pertama setelah melahirkan memiliki keberhasilan yang lebih besar dari mereka yang menundanya. Bayi baru lahir sebaiknya disusui setiap 2-3 jam sampai bayi merasa puas. Menyusui minimal 5 menit pada masing-masing payudara pada hari pertama setelah melahirkan dan semakin meningkat frekuensinya setiap hari sehingga dapat meningkatkan produksi ASI optimal. Waktu menyusui 20 menit pada masing-masing payudara cukup untuk bayi. Tidak perlu membatasi waktu menyusui.
Frekuensi menyusui yang sering dapat meningkatkan produksi ASI, mencegah payudara nyeri dan sakit karena penumpukan dan penggumpalan ASI, dan meminimalkan kemungkinan bayi menjadi kuning.
Jumlah ASI yang normal diproduksi pada akhir minggu pertama setelah melahirkan adalah 550 ml per hari. Dalam 2-3 minggu, produksi ASI meningkat sampai 800 ml per hari. Jumlah produksi ASI dapat mencapai 1,5-2 L per harinya. Jumlah produksi ASI tergantung dari berapa banyak bayi menyusu. Semakin sering bayi menyusu, semakin banyak hormon prolaktin dilepaskan, dan semakin banyak produksi ASI. Menyusui dapat berkaitan dengan ketidaknyamanan pada payudara. Nyeri pada puting dapat diberikan krim vaselin. Perubahan posisi menyusui untuk memutar titik stres pada puting juga sebaiknya dilakukan. Sebaiknya bayi berhenti dahulu menghisap puting sebelum mengangkatnya dari payudara. Wanita yang menyusui membutuhkan 500-1000 kalori lebih banyak dari wanita yang tidak menyusui. Wanita menyusui rentan terhadap kekurangan magnesium, vitamin B6, folat, kalsium, dan seng. ASI tidak memiliki suplai zat besi yang cukup untuk bayi prematur atau bayi berusia lebih dari 6 bulan. Karena itu suplementasi zat besi sebaiknya diberikan pada ibu menyusui dengan bayi prematur. Nutrisi yang tidak adekuat dan stres dapat menurunkan jumlah produksi ASI.
Terdapat berbagai posisi untuk menyusui namun posisi yang baik adalah dimana posisi kepala dan badan bayi berada pada garis yang lurus sehingga bayi dapat menyusui dengan nyaman. Selain itu posisi ibu pun harus nyaman. Cara menyusui yang benar adalah :

  1. Cobalah untuk menyangga punggung, bahu, dan leher bayi. Bayi sebaiknya dapat menggerakkan kepalanya ke depan dan ke belakang dengan mudah
  2. Letakkan bayi dengan posisi hidungnya setara dengan puting sehingga bayi akan melekat sempurna dengan payudara
  3. Tunggu sampai bayi membuka mulut lebar dengan lidah di bawah, ibu dapat membuat bayi dalam posisi ini dengan merangsang bibir bagian atas bayi dengan jari ibu
  4. Bayi anda akan mendekatkan kepalanya ke payudara dengan dahi terlebih dahulu
  5. Bayi akan membuka mulutnya lebar untuk mencakup putting dan lingkaran gelap di sekitar puting, puting ibu sebaiknya berada pada langit-langit mulut bayi
  6. Untuk merangsang bayi melepaskan mulutnya dari puting, dengan lembut letakkan ujung jari ibu pada sudut mulut bayi dan bayi akan secara otomatis membuka mulutnya. Jangan menarik secara paksa karena akan menimbulkan luka pada putting

Keuntungan Menyusui bagi Bayi

ASI menyediakan nutrisi lengkap bagi bayi. ASI mengandung protein, mineral, air, lemak, serta laktosa. ASI memberikan seluruh kebutuhan nutrisi dan energi selama 1 bulan pertama, separuh atau lebih nutrisi selama 6 bulan kedua dalam tahun pertama, dan 1/3 nutrisi atau lebih selama tahun kedua. ASI juga menyediakan perlindungan terhadap infeksi dan penyembuhan yang lebih cepat dari infeksi. Imunoglobulin A terdapat dalam jumlah yang banyak di dalam kolostrum sehingga memberikan bayi tersebut kekebalan tubuh pasif terhadap infeksi. Terdapat faktor bifidus di dalam air susu ibu yang menyebabkan pertumbuhan dari Lactobacillus bifidus yang dapat menurunkan kumpulan bakteri patogen (menyebabkan penyakit pada manusia) penyebab diare. Berdasarkan penelitian di negara maju, ASI dapat menurunkan angka infeksi saluran pernapasan bawah, otitis media (infeksi pada telinga tengah), meningitis bakteri (radang selaput otak), infeksi saluran kemih, diare, dan necrotizing enterocolitis. Karena protein yang terdapat pada ASI adalah protein yang spesifik untuk manusia, maka pengenalan lebih lama terhadap protein asing atau protein lain yang terdapat di dalam susu formula, dapat mengurangi dan memperlambat terjadinya alergi.

Keuntungan bagi Ibu

Hormon oksitosin dilepaskan selama menyusui yang menyebabkan peningkatan kontraksi rahim, mencegah involusi rahim, dan menurunkan angka kejadian perdarahan setelah melahirkan. Wanita yang menyusui, menurunkan angka kejadian kanker indung telur dan kanker payudara setelah menopause sesuai dengan lamanya waktu dia menyusui. Wanita yang menyusui juga dapat mengurangi angka kejadian osteoporosis dan patah tulang panggul setelah menopause, serta menurunkan kejadian obesitas karena kehamilan.
Meyusui dapat menciptakan ikatan antara ibu dengan bayi yang juga dapat mengurangi biaya dibandingkan dengan pemakaian susu formula. Menyusui memperlambat ovulasi (keluar dan matangnya sel telur) setelah melahirkan sehingga menjadi suatu bentuk KB alamiah.

Tanda bahwa bayi menyusu dengan benar


  1. Mulut bayi seluruhnya tertangkup di puting dan payudara
  2. Dahi bayi menyentuh payudara
  3. Payudara tidak nyeri ketika disusui
  4. Apabila ibu dapat melihat daerah gelap di sekitar payudaranya, maka ibu seharusnya melihat daerah gelap tersebut lebih banyak di atas bibir bayi bagian atas dibandingkan bibir bagian bawah
  5. Pipi bayi tidak tertekan atau tetap pada posisinya
  6. Bayi anda secara teratur menghisap dan menelan ASI, normal apabila sesekali bayi berhenti
  7. Apabila bayi sudah selesai menyusu maka dia akan melepaskan puting dengan sendirinya

Tanda bahwa bayi mendapatkan ASI dalam jumlah cukup adalah :


  1. Bayi akan terlihat puas setelah menyusu
  2. Bayi terlihat sehat dan berat badannya naik setelah 2 minggu pertama (100-200 g setiap minggu)
  3. Puting dan payudara ibu tidak luka
  4. Setelah beberapa hari menyusu, bayi akan buang air kecil minimal 6-8 kali sehari dan buang air besar berwarna kuning 2 kali sehari
  5. Apabila bayi selalu tidur dan tidak mau menyusui maka sebaiknya bayi dibangunkan dan dirangsang untuk menyusui setiap 2-3 jam sekali setiap harinya.

Hal yang Harus Diperhatikan ketika Menyusui

Beberapa hal yang membuat menyusui tidak diperkenankan adalah :

  1. Ibu yang menggunakan obat-obatan terlarang atau alkohol dalam jumlah berlebihan
  2. Bayi dengan galaktosemia
  3. Ibu dengan penyakit HIV/AIDS
  4. Ibu dengan penyakit Tuberkulosis (TBC) yang tidak diobati dan masih aktif. Wanita tersebut dapat memberikan ASI kepada bayinya apabila pengobatannya sudah menujukkan keberhasilan terapi
  5. Ibu dengan penyakit varisela (cacar). Apabila bayi sudah diberikan Imunoglobulin virus varisela zoster, maka bayi tersebut dapat disusui apabila tidak terdapat luka di puting. Dalam waktu 5 hari setelah lenting-lenting muncul, antibodi ibu dibentuk, dan menyusui pada saat ini dapat memberikan kekebalan pasif bagi bayi
  6. Herpes yang aktif pada payudara

Menyusui dapat dilakukan pada keadaan :


  1. Infeksi Cytomegalovirus (CMV) bawaan atau didapat pada bayi yang sehat. Bayi tersebut sebaiknya disusui karena ASI mengandung antibody
  2. Ibu dengan penyakit Hepatitis B, apabila bayi sudah diberikan Imunoglobulin Hepatitis B serta vaksin Hepatitis B (wanita dengan Hepatitis B yang sedang aktif sebaiknya tidak menyusui)
  3. Ibu dengan penyakit Hepatitis A, apabila bayi sudah menerima Imunoglobulin Hepatitis A serta vaksin Hepatitis A
  4. Masih merupakan kontroversi wanita dengan Hepatitis C dapat menyusui atau tidak

Obat-obatan selama Menyusui

Penggunaan obat-obatan antikanker, tirotoksik, dan obat imunosupresan (penurun kekebalan tubuh) tidak diperbolehkan selama menyusui. Menyusui dapat dilanjutkan apabila ibu sedang dalam terapi antibiotik. Meskipun obat antikejang yang diminum oleh ibu terdapat juga di dalam ASI, namun obat ini tidak perlu dihentikan kecuali bayi mengalami sedasi.

Kontrasepsi selama Menyusui

Pada wanita yang tidak menyusui, waktu rata-rata ovulasi berikutnya adalah 45 hari setelah wanita tersebut melahirkan (jangka waktu 25-72 hari). Pada wanita menyusui, waktu rata-rata ovulasi berikutnya adalah 190 hari.

  1. Metode Amenorea Laktasi. Metode ini dapat menyediakan proteksi sebesar 95-99% dalam waktu 6 bulan setelah melahirkan apabila persyaratannya dipenuhi. Menyusui setiap 4 jam di siang hari, dan setiap 6 jam di malam hari. Makanan tambahan untuk bayi hanya 5-10% dari total
  2. Metode nonhormonal. Dapat dengan menggunakan kondom, spiral, atau sterilisasi
  3. Kontrasepsi Progestin (minipil, suntik, susuk). Kontrasepsi progestin tidak mengganggu kualitas dari ASI dan bahkan dapat meningkatkan jumlah dari ASI. Merupakan metode kontrasepsi pilihan bagi wanita menyusui. Direkomendasikan oleh ACOG penggunaan pil progestin 2-3 minggu setelah melahirkan, suntikan dan susuk 6 minggu setelah melahirkan. Harus diingat mengenai penurunan efektivitas dari kontrasepsi progestin pil apabila tidak diminum di waktu yang sama setiap harinya
  4. Kontrasepsi kombinasi estrogen-progesteron. Kontrasepsi kombinasi dapat menurunkan kualitas dan kuantitas dari ASI. WHO menganjurkan penggunaan pil ini minimal 6 bulan setelah melahirkan

Mastitis

Mastitis adalah infeksi pada payudara yang terjadi pada 1-2% wanita yang menyusui. Mastitis umum terjadi pada minggu 1-5 setelah melahirkan. Mastitis ditandai dengan nyeri pada payudara, kemerahan, area payudara yang membengkak, demam, menggigil, dan lemah. Penyebabnya adalah infeksi Stafilokokus aureus. Mastitis ditangani dengan pemberian antibiotika.

Problema Ibu Menyusui Dan Penanganannya

1.      Putting susu datar/tertarik kedalam (Inverted Nipple) Penanganannya:

Dengan pengurutan putting susu, posisi putting susu ini akan menonjol keluar seperti keadaan normal. Jika dengan pengurutan posisinya tidak menonjol, usaha selanjutnya adalah dengan memakai Breast Shield atau dengan pompa payudara (Breast Pump). Jika dengan cara-cara tersebut diatas tidka berhasil (ini merupakan True Inverted Nipple) maka usaha koreksi selanjutnya adalah dengan tindakan pembedahan (operatif).

2.      Putting susu lecet (Abraded and or cracked nipple) Penyebabnya:

·         Tehnik menyusui yang kurang tepat.
·         Pembengkakan payudara
·         Iritasi dari bahan kimia, misalnya sabun
·         Moniliasis (infeksi jamur)


Penanganan:


  1. Posisi bayi sewaktu menyusu harus baik
  2. Hindari pembengkakan payudara dengan lebih seringnya bayi disusui, atau mengeluarkan air susu dengan urutan (massage)
  3. Payudara dianginkan di udara terbuka
  4. Putting susu diolesi dengan lanolin
  5. Jika penyebabnya monilia, diberi pengobatan dengan tablet Nystatin.
  6. Untuk mengurangi rasa sakit, diberi pengobatan dengan tablet analgetika.

Pembengkakan payudara (Engorgement)

Penyebab:

Pengeluaran air susu tidak lancar oleh karena putting susu jarang diisap.

Penanganan:


  1. Payudara dikompres dengan air hangat
  2. Payudara diurut sehingga air susu mengalir keluar, atu dengan pompa payudara.
  3. Bayi disusui lebih sering
  4. Untuk menghilangkan rasa sakit, diberi pengobatan dengan tablet analgetika

Saluran air susu tersumbat (Obstructed Duct)

Penyebab:

  1. Air susu mengental hingga menyumbat lumen saluran. Hal ini terjadi sebagai akibat air susu jarang dikeluarkan.
  2. Adanya penekanan saluran air susu dari luar.
Penanganan:

  1. Payudara dikompres dengan air hangat, setelah itu bayi disusui
  2. Payudara siurut (massage), setelah itu bayi disusui
  3. Bayi disusui lebih sering
  4. Bayi disusui mulai dengan payudara yang salurannya tersumbat.

Mastitis (peradangan payudara)

Penyebab:
Umumnya didahului dengan: putting susu lecet, saluran air susu tersumbat atau pembengkakan payudara.

Penanganan:

  1. Payudara dikompres dengan air hangat
  2. Untuk mengurangi rasa sakit diberi pengobatan dengan tablet analgetika
  3. Untuk mengatasi infeksi diberi pengobatan dengan antibiotika.
  4. Bayi disusui mulai dengan payudara yang mengalami peradangan, dan ibu jangan dianjurkan menghentikan menyusui bayinya.
  5. Istirahat yang cukup.

Sekresi dan pengeluaran air susu kurang

Penyebabnya:

  1. Isapan pada putting susu jarang, atau diisap terlalu singkat
  2. Metode isapan bayi kurang efektif
  3. Bayi sudah mendapat makanan tambahan hingga keinginan untuk menyusu berkurang.
  4. Nutrisi (makanan) ibu kurang sempurna
  5. Adanya hambatan atas let’s down reflex, misalnya oleh karena stress atu cemas
  6. Obat-obatan yang menghambat sekresi air susu
  7. Kelainan hormonal
  8. Kelainan parenchym payudara.

Abses payudara

Penyebab: Infeksi bakterial, khususnya staphylococcus virulent
Penanganan:

  1. Kultur pus atau sekresi dari putting susu, untuk menentukan antibiotika yang ampuh
  2. Pus dikeluarkan dengan pompa payudara.
  3. Atau kalau ada indikasi untuk tindakan operatif, dibuat pengeluaran (drainage) pus
  4. Jika penyebabnya bukan bakteri virulent, bayi dapat diberi air susu ibunya asal saja si ibu sudah diberi antiobiotika 12 jam sebelumnya
  5. Ibu dengan keadaan penyakitnya berat dan keadaan umum tidak baik, bayi diberi ASI donor.

Tumor Payudara

Tumor payudara yang dijumpai pada masa laktasi, sebaiknya dilakukan pemeriksaan biopsi tanpa menghentikan laktasi. Dari pemeriksaan patologi sediaan biopsi ini, sikap tentang laktasi diputuskan. Laktasi dapat dilanjutkan jika tumor jinak, kemudian tumor dieksterpasi (dibuang).Jika ibu mendesak untuk segera dilakukan ekstirpasi, maka permintaan ini dikabulkan tanpa menghentikan laktasi. Jika ternyata jenis tumor ganas (kanker), maka laktasi segera dihentikan (bayi disapih). Kanker payudara lebih sering dijumpai pada kelompok ibu yang tidakmenyusui bayinya dibandingkan dengan kelompok ibu yang menyusui bayi.

Ibu menderita hepatitis atau pembawa kuman (carrier)

Ibu yang darahnya mengandung hepatitis B antigen dapat menularkannya ke bayi semasa hamil (transplacental), pada waktu persalinan, dan akibat hubungan (kontak) yang berlangsung lama antara ibu-bayi. Penularan dari ibu kepada bayi ini dikenal dengan istilah “Vertical Transmission”. Beberapa peneliti melaporkan bahwa air susu penderita Hepatitis B mengandung hepatitis B antigen, tetapi penularan melalui ASI belum dapat dipastikan. Bayi yang lahir harus diberi Hepatitis B immunoglobulin. Ibu yang dalam keadaan infeksi aktif tidak dianjurkan untuk menyusui bayinya.

Herpes

Ibu yang mendapat infeksi CMV dapat menularkannya melalui ASI. Untuk mencegah penularan, laktai dihentikan.

Persalinan operatif (seksio sesarea)

Seksio sesarea tanpa komplikasi berat, ibu dapat menyusui bayinya 12 jam pasca persalinan. Sebaiknya obat-obatan untuk si ibu diberikan setelah bayi disusui. Bayi yang dilahirkan dengan seksio sasarea dan belum dapat disusui, ASI harus dipompa dan diberikan kepada bayinya dengan menggunakan sendok teh.

Toksemia

Persalinan pada ibu yang menderita pre eklampsia/eklampsia yang masih mendapat pengobatan diuretik, antihipertensi ataupun sedativa, sebaiknya bayi jangan diberi ASI. ASI dipompa dan dibuang, dan bayi diberi air susu ibu dari donor. Setelah kondisi ibu pulih dan obat-obatan dihentikan, ibu dianjurkan menyusui bayinya.

Tuberkulosis

Ibu yang menderita TBC boleh menyusui bayinya. Si Ibu diberi pengobatan dan bayi diberi INH atau divaksinasi dengan BCG dari jenis INH resistant straint. Ibu yang menderita TBC payudara TBC payudara tidka dianjurkan menyusui bayinya.

Lepra 

Ibu penderita lepra dibolehkan menyusui bayinya. Ibu dan bayi berhubungan hanya waktu menyusui, setelah selesai, dipisah kembali. Ibu dan bayi diberi pengobatan oral diaminodiphenyl sulfone.

Diare 

oleh sebab infeksi bacterial Ibu yang menderita diare oleh bakteri boleh menyusui bayinya setelah lebih dahulu si Ibu diberi pengobatan.

Diabetes mellitus

Penderita diabetes mellitus dibolehkan menyusui bayinya.

Hypertyroidisme

Ibu penderita hypertyroidisme boleh menyusui bayinya, asal saja kadar T4 dan TSH dalam darah bayi diukur secara berkala.

Psikosis

Ibu yang menderita psikosis tidak dianjurkan menyusui bayinya oleh karena dikhawatirkan bayi mendapat perlakuan buruk.

Ibu bekerja

Penyebab utama penyapihan bayi adalah ibu yang aktif bekerja. Sebaiknya diberi kesempatan pada si Ibu untuk menyusui bayinya ditempat ia bekerja.

Post a comment

0 Comments