HAMIL DILUAR KANDUNGAN (KEHAMILAN EKTOPIK)

Kehamilan Ektopik adalah kehamilan yang berbahaya bagi wanita kareana bisa menjadi kegawatdaruratan dan menjadi kehamilan ektopik terganggu.

Definisi

Kehamilan ektopik terjadi bila ovum yang telah dibuahi berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium cavum uteri.  Sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba. sangat jarang terjadi implantasi di ovarium, rongga perut, kanalis servikalis, tanduk uterus yang rudimenter dan divertikel uterus. berdasarkan implantasi hasil konsepsi pada tuba, terdapat kehamilan pars interstisialis tuba, kehamilan pars ismika tuba, kehamilan pars ampularis tuba dan kehamilan infundibulum tuba.

Kehamilan diluar tuba adalah kehamilan ovarial, kehamilan intraligamenter, kehamilan servikal dan kehamilan abdominal yang bisa primer atau sekunder.

Frekuensi

  • Krekuensi kehamilan ektopik sukar ditentukan. gejala kehamilan ektopik terganggu dini tidak selalu jelas
  • Pemakaian antibiotik meningkatkan frekuensi kehamilan ektopik. antibiotik dapat mempertahankan terbukanya tuba yang mengalami infeksi, tetapi perlekatan menyebabkan pergerakan silia dan peristaltik tuba terganggu dan menghambat perjalanan ovarium yang dibuahi dari ampula ke rahim. 
  • Kontrasespsi mempengaruhi kehamilan ektopik. IUD dapat mencegah secara efektif kehamilan intrauteri tetapi tidak mempengaruhi kejadian kehamilan ektopik.
  • Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. frekuensi kehamilan ektopik berulang dilaporkan berkisar antara 0-14,6%


Etiologi

Sebagian besar penyebabnya tidka diketahui. 

Faktor-faktor yang menyebabkan kehamilan ektopik:

1. Faktor dalam lumen tuba.

  • Endosalpingitis dapat menyebabkan perlekatan endosalping, sehingga lumen tuba menyempit atau membentuk kantong baru.
  • Pada hiplasia uteri lumen tuba sempit dan berkeluk-keluk dan disertai dengan gangguan fungsi silia endosalping
  • Operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat menjadi sebab lumen tuba menyempit.

2. Faktor dinding tuba

  • Endomemtriosis tuba dapat memudahkan implantasi telur yang dibuahi didalam tuba
  • Divertikel tuba kongenital atau ostium tubae dapat menahan telur yang dibuahi ditempat itu.

3. Faktor diluar dinding tuba

  • Perlekatan peritubal dengan disorsi atau lekukan tuba yang dapat menghambat perjalanan telur
  • Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba

4. Faktor lain

  • migrasi luar ovum yaitu perjalanan dari ovarium kanan ke tuba kiri - atau sebaliknya - dapat memperpanjang perjalanan telur yang dibuahi ke uterus. pertumbuhan telur yang terlalu cepat dapat menyebabkan implantasi prematur.
  • Fertilisasi invitro


Patologi

Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi di tuba pada dasarnya sama dengan halnya di cavum uteri. Pertama ovum berimplantasi dijonjot endosalping. perkembangan ovum dibatasi dengan kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan terabsorpsi. 

nasib kehamilan dalam tuba terdapat beberapa kemungkinan. karena tuba bukan tempat untuk pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin tumbuh secara utuh seperti didalam uterus. sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan 6-10 minggu.

  1. Hasil konsepsi mati dini dan diabsorpsi
  2. Abostus kedalam lumen tuba
  3. Ruptur dinding tuba

Gambaran klinik

Pada umumnya penderita menunjukkan gejala kehamilan muda  dan sedikit nyeripada perut bagian bawah yang tidak dihiraukan.pemeriksaan vaginal uterus membesar dan lembek. tuba yang mengandung hasil konsepsi karena lembeknya sukar diraba pada pemeriksaan bimanual.

Gejala dan tanda kehamilan tuba terganggu sangat berbeda-beda. dari perdarahan banyak yang tiba-tiba didalam rongga perut sampai terdapat gejala yang tidak jelas, sehingga sukar membuat diagnosanya. Gejala dan tanda bergantung pada lamanya kehamilan ektopik terganggu, abortus atau ruptur tuba, tuanya kehamilan, derajat perdarahan yang terjadi dan keadaan umum penderita sebelum hamil.

Nyeri merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopik terganggu. pada ruptur tuba nyeri perut bagian bawah dan disertai dengan perdarahan menyebabkan penderita pingsan dan mengalami syok.Rasa nyeri mulanya terdapat pada salah satu sisi, tetapi setelah darah masuk ke dalam rongga perut, rasa nyeri menjalar ke bagian tengah atau ke seluruh perut bagian bawah

Perdarahan per vaginam merupakan tanda penting kedua pada kehamilan ektopik. hal inimenunjukkan kematian janin dan berasal dari cavum uteri karena pelepasan desidua. perdarahan dari uterus tidak banyak dan berwarna coklat tua. 

Amenorea.lamanya amenorea tergantung pada kehidupan janin. sebagian besar penderita tidak mengalami amenorea karena kematian janin terjadi sebelum masa haid berikutnya


Tanda dan gejala 

Menurut Prawirohardjo (2010), gambaran kehamilan ektopik terganggu yang belum terganggu tidak khas dan penderita maupun dokter biasanya tidak mengetahui adanya kelainan dalam kehamilan. Secara umum menurut Saifudin (2010) gejala kehamilan ektopik sebagai berikut: 
  1. Amenorhoe 
  2. Nyeri perut mendadak 
  3. Perdarahan pervaginam berwarna coklat tua 

Gejala kehamilan ektopik terganggu antara lain: 
  1. Nyeri abdomen 90%-100% 
  2. Amenorhoe 75%-95% 
  3. Perdarahan 50%-80% 
  4. Pusing dan lemah 20%-35% 
  5. Gejala hamil 10%-25% 
  6. Keluar jaringan 5%-10% 
Gejala dan tanda kehamilan ektopik terganggu sangat berbedabeda dari perdarahan yang banyak, yang tiba-tiba dalam rongga perut sampai terdapatnya gejala tidak jelas, sehingga sukar membuat diagnosisnya. Gejala dan tanda bergantung pada lamanya kehamilan ektopik, abortus atau ruptur tuba, tuanya kehamilan, derajat perdarahan yang terjadi dan keadaan umum penderita sebelum hamil (Sukarni dan Margareth, 2013). 

Tanda-tanda kehamilan sudah menjadi ektopik terganggu, antara lain: 
  1. Timbul nyeri pada serviks jika digerakkan, kavum Dauglas menonjol dan nyeri pada perabaan. 
  2. Tuba yang mengandung hasil konsepsi sukar diraba karena lembek. 
  3. Nyeri terjadi tiba-tiba dengan intensitas tinggi disertai perdarahan. 
  4. Serasa ingin kencing tapi tidak karena peregengan peritoneum oleh darah di dalam rongga perut.

Diagnosis kehamilan ektopik 

Menurut Manuaba (2010), pengalaman menunjukan bahwa hampir seluruh kehamilan ektopik berakhir dengan ruptura yang menimbulkan perdarahan intra abdominal dengan gejala klinik kedaruratan abdomen yang memerlukan tindakan laparotomi. 

Menurut Yulianingsih (2009), menegakkan diagnosis kehamilan ektopik terganggu tentunya dengan melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, yaitu sebagai berikut: 

Anamnesa tentang trias kehamilan ektopik terganggu: 

  1. Terdapat amenorrhea (terlambat datang bulan) 
  2. Terdapat rasa nyeri mendadak disertai rasa nyeri di daerah pinggang dan seluruh abdomen 
  3. Terdapat perdarahan melalui vaginal atau spotting/bercak. Perdarahan pervaginam umumnya perdarahan tidak banyak dan berwarna coklat tua (> 50 cc). 

Pemeriksaan fisik  

Keadaan umum dan tanda vital dapat baik sampai buruk seperti: 
  1. Keadaan umum
    1. Ibu tampak anemis dan sakit 
    2. Kesadaran bervariasi dari baik sampai koma tidak sadar 
  2. Terdapat tanda-tanda syok: 
    1. Hipotensi (penurunan diastolic sekitar 15mmHg) 
    2. Takhikardia (nadi meningkat 20-25 denyut per menit) 
    3. Pucat, ekstermitas dingin 
  3. Pada pemeriksaan abdomen: 
    1. Ditemukan tanda-tanda rangsangan peritoneal (nyeri tekan, nyeri ketok, nyeri lepas, difensemusculaire), ini disebabkan karena darah yang masuk kedalam rongga abdomen akan merangsang peritoneum.
    2. Tanda cairan bebas dalam abdomen 
    3. Perut kembung 
  4. Pemeriksaan khusus melalui vagina (pemeriksaan gynekologi) 
    1. Nyeri goyang pada pemeriksaan serviks 
    2. Serviks terlalu lunak dan nyeri tekan 
    3. Korpus uteri normal atau sedikit membesar, kadangkadang sulit diketahui karena nyeri abdomen yang hebat 
    4. Kavum Douglas menonjol oleh karena tensi darah dan nyeri 

Pemeriksaan penunjang 

  1. Pemeriksaan laboratorium 
    1. Kadar Haemoglobin dan Eritrosit menurun atau Leukosit meningkat menunjukan adanya perdarahan yang terjadi pada kehamilan ektopik terganggu dapat terjadi leukositas. 
    2. Tes Kehamilan (Urine dan βHCG)
  2. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) 
    1. Pada pemeriksaan USG dapat dijumpai kantong kehamilan di luar kavum uteri disertai atau tanpa adanya genangan cairan (darah) di kavum Douglas pada kehamilan ektopik terganggu. 
    2. Pemeriksaan USG Trans-Vaginal Dapat mendeteksi tuba ring (massa berdiameter 1- 3 cm dengan pinggir ekhogenik yang mengelilingi pusat yang hipoekhoik), gambaran ini cukup spesifik untuk kehamilan ektopik. 
    3. Pemeriksaan Kuldosentesis (Douglas Punki) Menurut Sastrawinata (2008), pemeriksaan Kuldosentesis (Douglas Punki) untuk mengetahui adanya cairan atau darah dalam kavum Douglas dengan cara jarum besar yang dihubungkan dengan spuit ditusukan ke dalam kavum Douglas, di tempat kavum Douglas menonjol ke fornik posterior. 

Penanganan 

Penanganan kehamilan ektopik terganggu pada umumnya adalah tindakan bedah, dalam tindakan demikian beberapa hal harus diperhatikan dan dipertimbangkan yaitu: kondisi penderita pada saat itu, keinginan penderita akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik terganggu, kondisi anatomic organ pelvic, kemampuan teknik bedah mikro, dokter operator dan kemampuan teknologi fertilisasi invitro setempat. Hasil pertimbangan ini menentukan apakah perlu dilakukan salpingektomi pada kehamilan tuba, atau dapat dilakukan pembedahan konservatif dalam arti hanya dilakukan salpingostomi. Apabila kondisi penderita buruk, misalnya dalam keadaan syok, lebih baik di lakukan salpingektomi (Prawirohardjo, 2010). 

Post a comment

0 Comments