Mengenal Tanda-tanda dan Penanganan Awal Gigitan Ular

Penanganan awal dilakukan secepat cepatnya setelah terjadi gigitan dan dilakukan sebelum pasien pergi ke pelayanan kesehatan. Bisa dilakukan sendiri oleh korban atau dibantu orang lain. Pertolongan yang sifatnya tidak jelas seperti menyedot darah, mengeluakan darah, membuat sayatan, memberikan cairan tanah, menggunakan obat-obat tradisional ataupun tanaman yang tidak jelas efek farmakologinya, memijat, memberi batu hitam atau kejutan listrik atau melakukan tusukan dengan jarum, mengikat atau memakai obat kimia serta mengkompres dengan es sebaiknya tidak dilakukan pada kasus gigitan ular karena akan memperlama dan memperberat penanganan kasus kegawatdaruratan gigitan ular. 

Pertolongan awal yang direkomendasikan adalah dengan melakukan imobilisasi atau membuat bagian tubuh yang kena gigitan tidak bergerak. Posisi imobilisasi adalah posisi yang nyaman dan aman bagi korban dengan membuat imobilisasi dari splint (dengan kayu, bambu, kardus yang rigid) atau sling (dengan kain atau selendang). Setiap gerakan atau kontraksi otot akan meningkatkan penyerapan atau penyebaran venom. Pada Elapid sangat dianjurkan melakukan bebat elastic dan imobilisasi atau pressure bandage immobilisasi sebagai penanganan awal. 

Untuk gigitan russel’s viper pad pressure bandage imobilisasi sangat efektif dan di Myanmar dilakukan sebagai penanganan awal untuk gigitan jenis ular ini. Untuk pertolongan bebat elastik dan imobilisasi pada ular neurotoxin memang dibutuhkan orrang yang terlatih, elastic bandage yang benar dan cara pemakaian yang benar. Jika kita tidak mengetahui jenis ularnya maka membuat tidak bergerak bagian yang tergigit ular dengan splint atau sling sangat direkomndasikan. Intervensi berupa tusukan, sayatan, pemijatan, penyedotan, pemberian obat gerbil atau kimia, batu hitam dan sengatan serta pengikatan akan memicu infeksi sekunder, peningkatan absorbs serta peningkatan perdarahan lokal sehingga justru akan memperburuk keadaan korban.

Pertolongan Kegawatdaruratan


Pemeriksaan jalan nafas, pernafasan, dan sirkulasi, disalibitas sistem syaraf/level kesadaran, dsb. (A, B, C, D dsb.) menjadi pemeriksaan cepat klinis awal yang harus dilakukan. Situasi klinis kegawatdaruratan seperti hipotensi dan syok akibat cardiovascular efek dari venom atau sekunder efek dari hypovolemia, pelepasan vasoaktif mediator inflamasi, syok perdarahan, atau anafilaksis syok. Kondisi gagal nafas akibat progresif neurotoxin yang menyebabkan paralisis otot pernafasan dan obstruksi jalan nafas. Kegagalan fungsi jantung akibat hyperkalemia karena Rhabdomyolisis setelah gigitan ular laut, Bungarus spesies (weling, welang), dan Russel’s viper. 

Gangguan pernafasan akibat peningkatan permiabilitas kapiler pada gigitan Russel’s viper. Envenomasi berat yang lambat dibawa ke tempat pelayanan kesehatan menyebabkan perdarahan hebat, gagal ginjal, sepsis, nekrosis. Selanjutnya anamnesa riwayat gigitan menjadi penting, pertanyaan kapan, dimana, apa aktifitas pasien saat digigit dan keluhan sekarang diharapkan membantu proses penegakan diagnosa dan identifikasi ular. 

Selanjutnya pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah pemeriksaan di tempat gigitan misalnya pembengkakan, nyeri tekan ditempat yang bengkak, pembesaran kelenjar getah bening atau limfangitis dan ekimosis. Tanda awal necrosis dan terjadi blister, kulit kepucatan atau kehilangan sensasi dan bau busuk seperti daging membusuk menjadi pemeriksaan yang sangat penting. Pemeriksaan seluruh tubuh dilakukan, pengukuran tekanan darah dan detak jantung, memeriksa keadaan kulit dan mukosa apakah ada petechiae, ekimosis, perdarahan di conjunctiva dan pemeriksaan fundus kalau ada perdarahan retina

Permeriksaan gusi terutama melihat perdarahan, hidung melihat epistaxis, pemeriksaan abdominal untuk mengetahui apakah ada intraabdominal atau retroperitoneal bleeding. Nyeri bagian belakang dan nyeri tekan (low back pain) dan akut renal ischemia akibat gigitan Russel’s viper. Kaku kuduk akibat subarachnoid haemorrhage, intracranial haemorrhage dengan tanda lateralisasi neurologis, pupil asimetris, kejang atau kesadaran terganggu. 

Pada envenomasi neurotoxin terdapat diplopia, dan test gerakan bola mata yang mengaalami hambatan yang disebut oftalmoplegia. Fleksi pada leher akibat paralisis otot-otot memberi gambaran seperti leher yang patah. Pemeriksaan ukuran dan reaksi pada kedua pupil, pemeriksaan yang lain adalah membuka mulut lebar lebar danmenjulurkan lidah jika terdapat keterbatasan pembukaan mulut dapat mengindikasikan trismus atau lebih sering kelumpuhan otot pterigoid. 

Pemeriksaan otot-otot yang diinervasi syaraf kranial misalnya otot wajah, lidah, gag reflek dsb. Pernafasan paradoksal merupakan indikasi kontraksi otot diafragma tetapi otot intercostal dan otot asesoris yang digunakan saat inspirasi paralisis. Pemeriksaan lainnya seperti peak flow metre, spirometer dengan menukur FEV dan FVC, atau meniup tabung sphygmomanometer (aneroid) untuk mncatat maksimal tekanan ekspiratori atau membuat tes single breath counting (SBC). 

Tes ini untuk mengukur berapa lama hitungan dua angka perdetik dengan suara bicara normal setelah mengambil nafas maksimal. Oximetri mendeteksi penurunan arterial saturasi oksigen. Pasien umumnya dianggap mengalami penurunan kesadaran bahkan meninggal oleh sebab itu disarankan melakukan tes tonus dan kekuatan otot superfisial dan reflex tendon dalam. 

Pemeriksaan tanda-tanda lateralisasi akibat perdarahan intracranial atau thrombosis. Melakukan pemeriksaan gerakan tak sadar seperti fasciculations/myokymia (sebagai overdases anticholiesterase) atau keracunan organo fosfat. Pada evenomasi akibat gigitan ular laut dan sebagaian bungarus spesies misalnya Bungarus candidus atau weling, Australia elapid, Russel’s viper, otot-otot terutama di batang leher dan bagian proximal dari anggota badan, nyeri tekan dan nyeri sekali saat digeraakkan atau tidak bergerak. Pada gigitan ular laut pseudotrimus terjadi setelah tekanan pada dagu bagian bawah. Myoglobinuria terjadi setelah 3 jam terjadi gigitan(WHO,2016)


Penatalaksanaan Fase Lokal

Pada fase lokal penanganan awal disertai pertolongan simptomatik sangat penting disertai obervasi 24 sampai 48 jam jika terjadi progresifitas pembengkakan atau tanda tanda fase sistemik maka penanganan awal yaitu imobilisasi dilepaskan dan digantikan dengan pemberian antivenom. Observasi fase lokal disarankan di fasilitas kesehatan karena dibutuhkan pemeriksaan dan pengulangan laboratorium atau pemeriksaan ppenunjang seperti EKG atau USG. Pemberian obat obat simptomatis sangat direkomendasikan. Pada fase lokal kita bisa melakukan pertolongan awal berupa: 

1. Imobilisasi dengan bidai (kayu, bambu, kardus, sesuatu yang rigid) dilakukan secepat cepatnya setelah tergigit dan segera dibawa ke tempat pelayanan kesehatan



2. Imobilisasi dengan elastic bandage dan bidai, jika diketahui ular yang mengigit adalah golongan neurotoxin maka dilakukan pembebatan dengan elastic bandage



2. Imobilisasi dengan pads dan elastic bandage serta spalk dimana diindikasikan untuk kasus daboia



3. Snake bite kit 
Snake bite kit adalah kelengkapan yang dibutuhkan untuk melakukan penanganan awal saat tergigit ular dan di Indonesia pertama rancang oleh pakar toxinology Dr. dr. Tri Maharani MSi SpEM di tahun 2014 dan mulai diproduksi oleh 4Life ditahun 2017. Isi dari snake bite kit tersebut adalah bidai baik itu bidai biasa atau bidai gulung, elastic bandage dan bukan tensocrep, plester kertas untuk melakukan observasi RPP (rapid proximal progressif tes), pena untuk menandai saat dilakukan RPP, mitella (kain berbentuk segitiga untuk mengikat bidai), perban jika dibutuhkan



Jika fase sistemik maka penggunaan antivenom diperlukan dengan beberapa antivenom yang ada di Indonesia.


1. Biosave

Terbuat dari 3 jenis spesies yaitu Caloselesma rhodostoma/ular tanah, Bungarus fasciatus/welang, Naja spurtatix/kobra jawa. Dosis inisial 2 vial dicampurkan dalam Hartman solusion atau cairan fisiologis seperti NaCl, RL, Asering tetesan 40 sampai 80 tetes atau habis 5 sampai 6 jam dan diulang setiap 6 jam sekali, tidak hipoalergi jadi butuh tes alergi sebelum diberikan dan saat alergi diberikan obat obat antihistamin dan corticosteroid serta adrenalin kalau ada anafilaksis, disimpan dalam suhu 4 sampai 8 derajat celcius dan berupa liquid (vandemicum biofarma). Masa exp 2 tahun

2. King Kobra

Dibuat dari venom king cobra/Ophiophagus Hannah Dosis: 10 vial (10 mg 1 vial) Antivenom berbentuk powder dan dilusi dengan cairan/water for injection 10 ml lalu diberikan dalam 500cc cairan infus (RL, NaCl, Asering). Penyimpanan suhu 25-29 derajat Celcius. Masa exp 5 tahun.


3. Green Pit Viper Antivenom


Dibuat dari venom ular hijau atau trimeresurus spesies. Dosis 3-5 vial (1 vial 10 mg). Berupa Powder yang harus dicampur dengan cairan water for injection lalu dicampurkan dalam cairan infus Nacl/RL/asering. Penyimpanan suhu 25-29 derajat Celcius. Masa expired 5 tahun.


4. Daboia siamensis ruselli

Dibuat dari venom Daboia siamensis ruselli, dosis 3-5 vial (1 vial 10 mg). Berupa powder yang harus dicampur dengan cairan water for injection lalu dicampurkan dalam cairan infus NaCl/RL/asering. Penyimpanan 25-29 derajat Celcius. Masa expired 5 tahun


5. Neuropolivalen Thailand


Dibuat dari venom king cobra, weling, welang, cobra (Naja kaothia). Dosis 10 vial (1 vial 10 mg). Bentuk powder didilusi dalam 10 cc water for injection dan diinfuskan dengan cairan RL, Nacl 90% dan asering, penyimpanan suhu 25-29 derajat Celcius. Masa expired 5 tahun.


6. Hematopolivalen Thailand


Dibuat dari venom Caloselesma rhodostoma, Trimeresurus albolabris, Daboia siamensis. Dosis 3 vial (1 vial 10 mg). Bentuk powder didilusi dengan water for injection 10 cc dan diberikan dalam cairan infus 500 cc Nacl, RL, Asering. Penyimpanan suhu 25 sampai 29 derajat Celcius. Masa expired 5 tahun.


7. Neuropolivalen Australia


Dibuat dari venom ular Australia dan Papua (Black snake, Tiger snake, Brown snake, Taipan dan Death adder). Dosis 1-3 vial (1 vial 50cc). Bentuk liquid 50cc dan dimasukkan dalam cairan infus Nacl, asering, masa expired 2 tahun dan harap disimpan dalam suhu 4 sampai 8 derajat C


8. Sea Snake Antivenom

Dibuat dari venom ular laut dan Dosis 1-10 vial (1 vial 1000 Unit). Berupa liquid dan dimasukkan dalam cairan infus Nacl, Asering, Rl, masa expired 2 tahun disimpan dalam suhu 4 sampai 8 derajat Celsius. Fase sistemik ditandai dengan abnormalitas dari keluhan, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lain seperti EKG, USG, CT Scan. Pemberian antivenom disarankan disesuaikan dengan species ular yang mengigit jika tidak dikettahui speciesnya dapat diidentifikasi venom efeknya sehingga bisa diberikan antivenomnya.

penanganan gigitan ular
penanganan gigitan ular menurut who
penanganan gigitan ular pdf
penanganan gigitan ular berbisa ppt
sop penanganan gigitan ular
sop penanganan gigitan ular pdf
penanganan gigitan ular tidak berbisa
penanganan gigitan ular kobra
penanganan gigitan ular terbaru
penanganan gigitan ular hijau
penanganan gigitan ular berbisa
cara mengobati gigitan ular air
penanganan awal gigitan ular
penatalaksanaan gigitan ular berbisa depkes
mengatasi gigitan ular berbisa
cara mengatasi gigitan ular berbisa
penanganan pertama digigit ular berbisa
cara penanganan gigitan ular
cara penanganan pada gigitan ular
penanganan gigitan ular di rumah sakit
gigitan ular dan penanganan
cara penanganan gigitan ular berbisa
penanganan gigitan ular weling
penanganan digigit ular hijau
cara mengobati gigitan ular hijau ekor merah
cara mengobati gigitan ular hijau
penanganan pertama gigitan ular
mengatasi gigitan ular kobra
penanganan luka gigitan ular
penanganan gigitan ular menurut who pdf
penanganan gigitan ular ppt
cara mengobati gigitan ular piton
cara mengobati gigitan ular pada anjing
penanganan pasien gigitan ular
penanganan pada gigitan ular
cara menangani gigitan ular berbisa
cara mengobati gigitan ular sawah
cara mengobati gigitan ular tidak berbisa
cara mengatasi gigitan ular tanah
cara mengatasi gigitan ular weling
cara mengobati gigitan ular weling

Post a Comment

0 Comments