PERDARAHAN PADA KEHAMILAN MUDA

Salah satu tanda bahaya kehamilan adalah terjadinya perdarahan selama kehamilan. pada umumnya perdarahan pada kehamilan muda disebabkan karena abortus dan KET sedangakan pada kehamilan lanjut disebabkan karena plasenta previa atau solusio plasenta



Perdarahan pada kehamilan muda merupakan perdarahan pada kehamilan dibawah 20 minggu atau perkiraan berat badan janin kurang dari 500 gram dimana janin belum memiliki kemampuan untuk hidup diluar kandungan. 

Jika seorang wanita datang ke tempat anda dengan keluhan terlambat haid 3 bulan, saat ini mengeluarkan darah dari kemaluan. Apa yang Anda pikirkan? 

Terjadinya perdarahan pada kehamilan muda memberikan suatu kemungkinan diagnosis yang bermacam-macam. Untuk memastikan apakah yang terjadi pada wanita tersebut, Anda harus melakukan penilaian klinik berdasar tanda dan gejala di bawah ini: 

ABORTUS 


Langkah pertama dari serangkaian kegiatan penatalaksanaan abortus inkomplit adalah penilaian kondisi klinik pasien. Penilaian ini juga terkait dengan upaya diagnosis dan pertolongan awal gawatdarurat. Melalui langkah ini, dapat dikenali berbagai komplikasi yang dapat mengancam keselamatan pasien seperti syok, infeksi/sepsis, perdarahan hebat (massif) atau trauma intraabdomen. Pengenalan ini sangat bermanfaat bagi upaya penyelamatan jiwa pasien. Walau tanpa komplikasi, abortus inklompit merupakan ancaman serius bila evakuasi sisa konsepsi tak segera dilaksanakan. 

INGAT: Beberapa jenis komplikasi abortus inkomplit, dapat timbul secara bersama sehingga dibutuhkan kecermatan petugas kesehatan atau penolong agar dapat membuat skala prioritas dalam menanggulangi masing-masing komplikasi tersebut.

Gejala dan Tanda Abortus Inkomplit

Untuk wanita yang masih dalam usia reproduksi, sebaiknya dipikirkan suatu abortus inklomplit apabila: 
  1. Terlambat haid (tidak datang haid lebih dari satu bulan, dihitung dari haid terakhir) 
  2. Terjadi perdarahan per vagina  
  3. Spasme atau nyeri perut bawah (seperti kontraksi saat persalinan) 
  4. Keluarnya massa kehamilan (fragmen plasenta)
Apabila tidak terdapat gejala tersebut diatas, sebaiknya dipertimbangkan diagnosis lain (misalnya infeksi panggul). Terminasi kehamilan secara paksa dilakukan dengan memasukkan kayu, plastic atau benda tajam lainnya kedalam kavum uteri dapat menjadi penyebab utama dari berbagai komplikasi serius abortus inkomplit. Karena berbagai alasan tertentu, kebanyakan pasien abortus provokatus, segan atau dengan sengaja menyembunyikan penyebab abortus yang dapat membahayakan atau mengancam keselamatan jiwa pasien.

Penapisan Komplikasi Serius Abortus


Bila seorang pasien datang dengan dugaan suatu abortus inkomplit, penting sekali untuk segera menentukan ada-tidaknya komplikasi berbahaya (syok, perdarahan hebat, infeksi/sepsis dan trauma intra abdomen/perforasi uterus). Bila ditemui komplikasi yang membahayakan jiwa pasien maka harus segera dilakukan upaya stabilisasi sebelum penanganan lanjut/merujuk ke fasilitas kesehatan rujukan.

Riwayat Medik Abortus 

Informasi khusus tentang reproduksi, yang harus diperoleh diantaranya:
  • Hari pertama haid terakhir dan kapan mulai terlambat haid 
  • Alat kontrasepsi yang sedang digunakan (amenore akibat kontrasepsi hormonal dapat dikelirukan dengan abortus bila kemudian terjadi monoragia) 
  • Perdarahan per vaginam (lama dan jumlahnya) 
  • Demam, menggigil atau kelemahan umum 
  • Nyeri abdomen atau punggung/bahu (berkaitan dengan trauma intra abdomen) 
  • Riwayat vaksinasi dan kemungkinan risiko tetanus (abortus provokatus)

Informasi medik yang Penting

  • Alergi obat (anestesi atau antibiotika) 
  • Gangguan hematologi (anemia bulan sabit/sickle sell anemia, thalasemia, hemofili atau gangguan pembekuan darah) 
  • Penggunaan obat jangka panjang (misalnya, kortikosteroid) 
  • Minum jamu atau obat – obatan yang tidak jelas komposisi dan khasiatnya (apabila bersifat toksik, dapat menimbulkan efek samping yang serius) 
  • Kondisi gangguan kesehatan lain (misalnya, malaria dan kehamilan)

Pemeriksaan Fisik 

Penting untuk diperhatikan : 
  • Periksa dan catat tanda vital (temperatur, tekanan darah, pernafasan, nadi) 
  • Gangguan kesehatan umun (anemia, kurang gizi, keadaan umum jelek) 
  • Periksa keadaan paru, jantung, ekstremitas 

Pemeriksaan Abdomen 

Periksa adanya :
  • Massa atau kelainan intra abdomen lainnya 
  • Perut kembung dengan bising usus melemah 
  • Nyeri ulang – lepas
  • Nyeri atau kaku dinding perut (pelvik/suprapublik) 

Pemeriksaan Panggul 

Tujuan utama pemeriksaan panggul atau bimanual adalah untuk mengetahui besar, arah, konsistensi uterus, nyeri goyang serviks, nyeri tekan parametrium, pembukaan ostium serviks. Melihat sumber perdarahan lain (trauma vagina/serviks) selain akibat sisa konsepsi. 

Derajat Abortus



Dengan memperhatikan temuan dari pemeriksaan panggul, tentukan derajat abortus yang dialami pasien. Pada abortus iminens, pasien harus diistirahatkan atau tirah baring total selama 24-48 jam. Bila perdarahan berlanjut dan jumlahnya semakin banyak, atau jika kemudian timbul gangguan lain (misal, terdapat tanda-tanda infeksi) pasien harus dievaluasi ulang dengan segera. Bila keadaannya membaik, pasien dipulangkan dan dianjurkan periksa ulang 1 hingga 2 minggu mendatang. Untuk abortus insipiens atau inkomplit, harus dilakukan evakuasi semua sisa konsepsi. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan hasil proses evakuasi untuk menetukan adanya massa kehamilan dan bersihnya kavum uteri. Karena waktu paruh CG adalah 60 jam, pada berapa kasus, uji kehamilan dengan dasar deteksi hCG, akan memberi hasil positif beberapa hari pasca keguguran.

Kasus

Ny. C datang ke tempat anda dengan keluhan kram pada perut bawah, mengeluarkan darah banyak dari kemaluan, keluar jaringan, hasil pemeriksaan menunjukkan uterus Lebih kecil dari usia kehamilan. Apa kemungkinan diagnosa yang terjadi pada Ny C ? 

Untuk menentukan jenis dan derajat abortus, silahkan anda perhatikan Tabel  berikut

Tabel Jenis dan Derajat Abortus


 Diagnosis  Perdarahan  Serviks Besar Uterus Gejala lain
Abortus Imminens Sedikit-sedang Tertutup  Sesuai dengan usia kehamilan1. PP test positif
2. Kram
3. Uterus Lunak
Abortus Insipiens Sedang-Banyak Terbuka Sesuai/Lebih Kecil1. Kram
2. Uterus lunak
Abortus Inkomplet Sedang-Banyak Terbuka-Lunak Lebih Kecil dari usia Kehamilan1. Kram
2. Keluar jaringan
3. Uterus lunak
Abortus Komplit Sedikit/Tidak ada Lunak - Terbuka/Tertutup Lebih Kecil dari usia Kehamilan1. Sedikit/tak kram
2. Keluar jaringan
3. Uterus kenyal

Kehamilan Ektopik yang Terganggu 

Kehamilan ektopik ialah terjadinya implantasi (kehamilan) diluar kavum uteri. Kebanyakan kehamilan ektopik di tuba, hanya sebagian kecil di ovarium, kavum abdomen, kornu. Kejadian kehamilan ektopik ialah 4,5-19,7/1000 kehamilan. Beberapa faktor risiko ialah : radang pelvik, bekas ektopik, operasi pelvik, anomalia tuba, endometris dan perokok. Gejala trias yang klasik ialah : amenorrhea, nyeri perut dan perdarahan pervaginam. Pada kondisi perdarahan akan ditemukan renjatan, dan nyeri hebat di perut bawah. Uterus mungkin lebih besar sedikit, dan mungkin terdapat massa tumor di adneksa. Dengan USG kehamilan intrauterin akan dapat ditentukan, sebaliknya harus dicari adanya kantong gestasi atau massa di adneksa/kavum douglas. Bila USG ditemukan kantong gentasi intrauterin (secara abdominal USG), biasanya kadar BhCG ialah 6500 iu; atau 1500 iu bila dilakukan USG transvaginal. Bila ditemukan kadar seperti itu dan tidak ditemukan kehamilan intrauterin, carilah adanya kehamilan ekstrauterin.

Penatalaksanaan KET


Bila ditemukan keadaan abdomen akut maka tindakan terbaik ialah hemostasis KET. Jenis tindakan yang akan diambil, harus memperhitungkan pemulihan fungsi kedua tuba. Bila ibu masih ingin hamil maka lakukan salpingostomi. Bila kondisi gawatdarurat, tidak ingin hamil lagi, robekan tidak beraturan, terinfeksi, perdarahan tak dapat dikendalikan maka lakukan salpingektomi. Pada umumnya akan dilakukan prosedur berikut ini : 
  • Pasang infus untuk substitusi kehilangan cairan dan darah 
  • Transfusi Hb < 6g%, Bila tidak segera tersedia darah, lakukan autotransfusi selama prosedur operatif 
  • Lakukan prosedur parsial salpingektomi atau eksisi segmental yang dilanjutkan dengan salpingorafi (sesuai indikasi) 
  • Lakukan pemantauan dan perawatan pascaoperatif 
  • Coba infus dan transfusi setelah kondisi pasien stabil
  • Realimentasi, mobilisasi dan rehabilitasi kondisi pasien sesegera mungkin 

Pada kehamilan ektopik belum terganggu, kondisi hemodinamik stabil, massa < 4 cm dan tidak ada perdarahan intraabdomen maka pertimbangkan pemberian MTX. Keberhasilan manajemen MTX dapat mencapai 80%. Berikan 50 mg MTX dan lakukan observasi BhCG yang akan menurun tiap 3 hari. Setelah 1 minggu, lakukan USG ulang, bila besar kantong tetap dan pulsasi, atau B-hCG meningkat > 2 kali dalam 3 hari. Berikan penjelasan pada pasien tentang risiko/keberhasilan terapi konservatif dan segera lakukan terapi aktif. Bila pasien tak mampu mengenali tanda bahaya, sebaiknya rawat inap untuk observasi. 

Pada perdarahan hebat dan massif intraabdomen dimana pengganti belum cukup tersedia dan golongan darah yang langka maka pertimbangkan tindakan transfuse autolog. Isap darah dengan semprit 20 ml, lakukan penyaringan dan kumpulkan dalam labu darah berisi antikoagulan, kemudian transfusi kembali ke pasien.

Post a comment

0 Comments